Oleh : Rifki Novanto, Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto
Dalam ranah sosiologi agama, sering kali timbul pertanyaan yang menarik: Apakah agama berfungsi sebagai pendorong untuk kemajuan bangsa atau malah menghalangi prosesnya? Apa sumbangsih terbesar umat Islam untuk Indonesia? Apakah sekedar jumlah penduduk mayoritas? Max Weber pernah menghubungkan prinsip-prinsip etika Protestan dengan perkembangan kapitalisme di Barat. Di Indonesia, jika kita dari pandangan yang menyatakan bahwa islam itu kaku dan menolak kemajuan, maka perhatian kita seharusnya diarahkan kepada sebuah organisasi islam yang dikenal dengan nama Muhammadiyah.
Organisasi yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 ini memberikan penjelasan yang jelas mengenai bagaimana kewajiban umat islam diinterpretasikan dalam konteks kemajuan bangsa. Bukan melalui pidato politik yang berfokus pada identitas, tetapi melalui pendidikan, perguruan tinggi, dan fasilitas kesehatan.
Melampaui Kesalehan Ritual
Tanggung jawab umat islam terhadap kemajuan bangsa sering kali dipahami secara sempit sebagai upaya menjaga etika masyarakat atau simbol-simbol agama. Namun, Muhammdiyah sebagai organisasi Islam yang berorientasi pada kemajuan memberikan pandangan yang berbeda. Bagi mereka, tanggung jawab umat adalah tanggung jawab yang bersifat fungsional.
Ribuan sekolah, puluhan perguruan tinggi, dan banyak rumah sakit (Pembina Kesejahteraan Umat) yang ada dari Sabang hingga Merauke bukan sekedar aset organisasi. Itu merupakan perwujudan dari nilai-nilai teologis. Muhammadiyah menginterpretasikan Surat Al-Ma’un menjadi sebuah bentuk jaminan sosial yang konkrit. Bagi mereka yang berpikir modern, membiarkan masyarakat yang tidak berpendidikan dan menderita adalah suatu tindakan yang mendustakan agama.
Di sinilah letak kuncinya, Muhammadiyah mengalihkan “kesalehan ritual” menjadi “kesalehan sosial yang terlembaga”. Islam tidak hanya berhenti di sajadah, tetapi juga merambah ke ruang operasi rumah sakit dan laboratorium universitas.
Infrastruktur Akal Sehat dan Kemanusiaan
Jejaring pendidikan Muhammadiyah mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi merupakan wujud komitmen umat dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Saat negara masih berjuan untuk meratakan akses pendidikan, lembaga pendidikan Muhammadiyah sering kali sudah ada lebih awal di daerah-daerah terpencil. Ini merupakan kontribusi yang nyata dalam meningkatkan indeks pembangunan manusia di Indonesia. Mereka tidak menunggu kehadiran negara, melainkan berperan serta membantu negara untuk hadir.
Sektor kesehatan menjadi lebih menarik jika kita melihatnya melalui PKU (Pembina Kesejahteraan Umat/Penolong Kesengsaraan Oemoem). Penamaan “Oemoem” (Umum) yang disematkan pada awal berdirinya menunjukkan visi inklusivitas yang jauh melampaui masa itu.
Rumah Sakit serta Universitas Muhammadiyah di daerah yang dihuni mayoritas non-muslim, contohnya di Kupan (Nusa Tenggara Timur) atau Papua, merupakan bukti nyata dari prinsip Rahmatan lil ‘Alamin. Di tempat tersebut, dokter beragama islam merawat pasien yang berkeyakinan Kristen, sementara dosen yang mengenakan jilbab mengajar murid-murid katolik. Tanpa batasan, tanpa adanya diskriminasi. Ini merupakan contoh dari diplomasi kebangsaan yang tenang, tetapi pengaruhnya jauh lebih besar dibandingkan dengan ribuan pidato mengenai toleransi.
Kemandirian sebagai Kunci Kemajuan
Pelajaran yang paling berarti dari Organisasi Muhammadiyah ini yaitu untuk kemajuan bangsa adalah etos kemandirian. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) diatur dengan sistem manajemen yang modern, terbuka, dan profesional. Pendapatan dari rumah sakit digunakan untuk mendanai sekolah, keuntungan dari universitas dipakai untuk mendirikan klinik baru.
Ini merupakan gambaran ideal dari civil society (masyarakat sipil). Umat islam tidak melihat diri mereka sebagai beban bagi negara yang selalu meminta dukungan sosial, tetapi sebagai mitra negara yang memiliki kemandirian ekonomi. Jika sikap “tangan di atas” ini diterima oleh semua organisasi Islam di Indonesia, bayangkan seberapa cepat pertumbuhan ekonomi negara ini bisa tercapai.
Kesimpulan
Melihat rekam jejak Muhammadiyah, kita disadarkan bahwa modernisasi islam tidak hanya soal mode berpakaian atau cara berpikir yang terpengaruh Barat. Dalam konteks Indonesia, modernisasi islam merupakan kemampuan untuk mengorganisir potensi umat agar menjadi kekuatan yang memberikan solusi terhadap masalah bangsa.
Muhammadiyah menunjukkan bahwa Islam dan perkembangan merupakan dua aspek yang saling berkesinambungan.Tanggung jawab kita sebagai umat islam saat ini adalah menjada dan meniru semangat ini: sedikit bicara, banyak bekerja, dan biarkan karya nyata yang menjadi saksi keberislaman bagi Indonesia.
Namun, rasa hormat terhadap warisan ini tidak boleh membuat kita merasa nyaman. Kesulitan yang akan datang jauh lebih rumit, termasuk perubahan teknologi, masalah iklim, dan tidakadilan ekonomi di Indonesia terutama. Generasi muda umat Islam diharuskan untuk tidak sekedar menjadi penerus yang pasif, melainkan sebagai penggerak inovasi yang aktif.
Semangat Al-Ma’un perlu dipahami kembali, bukan hanya sebatas memberi bantuan, tetapi juga memperkuat melalui inovasi teknologi dan ekonomi kreatif. Jika Muhammadiyah pada abad sebelumnya berjuang menggunakan kapur dan obat-obatan, pada abad ini kita berjuang dengan memanfaatkan data dan hasil karya yang nyata. Mari kita pastikan bahwa Islam tetap menjadi solusi, bukan hanya menjadi penonton di negerinya sendiri.





