LUKA DISKRIMINASI DI BANGKU SEKOLAH DASAR: BUKAN SEKADAR CANDAAN

Oleh: Faradilah Fatin, Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Ganesha

Kita semua mungkin pernah melihat seorang anak menjadi bahan tertawaan hanya karena ia berbeda dari teman-temannya. Banyak orang dewasa sering menenangkan diri dengan mengatakan bahwa anak-anak memang suka bercanda. Padahal, candaan yang menyentuh fisik, logat, latar belakang keluarga, atau budaya seseorang bukan sekadar gurauan ringan. Ada luka yang tidak terlihat, tetapi terasa kuat bagi anak yang mengalaminya. Sekolah dasar, yang idealnya menjadi tempat anak merasa aman dan diterima, justru bisa menjadi ruang pertama di mana mereka belajar bahwa perbedaan dapat dijadikan alasan untuk mempermalukan seseorang. Di titik inilah benih-benih diskriminasi mulai tumbuh kecil, samar, dan sering kali tidak disadari. Apa yang tampak sepele bagi orang dewasa bisa menjadi pengalaman besar yang memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.

Pencegahan diskriminasi di tingkat sekolah dasar menjadi sangat penting karena di usia itu anak sedang membentuk cara pandang terhadap dunia di sekitarmereka. Mereka tidak hanya belajar membaca atau berhitung, tetapi juga bagaimana memperlakukan orang lain dan bagaimana orang lain memperlakukan mereka. Jika sejak awal mereka dibiasakan melihat perbedaan sebagai bahan olokan, perilaku itu bisa terbawa hingga dewasa. Sebaliknya, bila mereka diarahkan untuk menghargai teman tanpa memandang latar belakang, nilai toleransi, empati, dan saling menghormati dapat tumbuh dalam diri mereka. Sekolah adalah tempat pertama bagi anak untuk berlatih hidup bermasyarakat, sehingga apa yang mereka alami di lingkungan tersebut berpengaruh besar terhadap karakter mereka kelak.

Diskriminasi juga memiliki hubungan erat dengan perundungan yang banyak terjadi di sekolah dasar. Ejekan yang dilakukan berulang kali dapat membuat anak merasa rendah diri, takut bersosialisasi, bahkan trauma untuk datang ke sekolah. Anak yang menjadi korban sering kehilangan keberanian untuk berkembang, sedangkan anak yang terbiasa menjadi pelaku bisa tumbuh menjadi pribadi yang kurang peka terhadap perasaan orang lain. Lingkungan yang tidak memberikan batasan jelas justru membuat anak menganggap bahwa merendahkan orang lain adalah sesuatu yang wajar. Padahal, sekolah memiliki peran penting dalam mencegah perilaku merendahkan itu berubah menjadi budaya. Ketika orang dewasa di sekitar tidak memberikan contoh dan teguran yang tepat, anak tidak memiliki pedoman untuk membedakan perilaku yang benar dan salah.

Masalah ini juga bukan sekadar teori. Data KPAI mencatat bahwa sepanjang 2022 kasus bullying masih banyak dialami oleh anak usia sekolah dasar, dan sebagian besar berkaitan dengan ejekan mengenai fisik, cara bicara, atau identitas anak. Fakta ini menunjukkan bahwa diskriminasi di sekolah bukan cerita kecil yang bisa diabaikan. Ada dampak psikologis, sosial, dan akademik yang muncul ketika anak tumbuh dalam lingkungan yang tidak menghargai keberagaman. Anak yang setiap hari mendengar ejekan cenderung menarik diri, kehilangan motivasi belajar, dan pada akhirnya membenci sekolah tempat yang seharusnya menjadi ruang mereka bertumbuh.

Selain itu, pendidikan yang menghormati keberagaman penting untuk mempersiapkan anak menghadapi masa depan. Indonesia adalah negara yang sangat majemuk, dan setiap orang akan hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan. Bila sejak dini anak terbiasa bersikap terbuka dan tidak mudah menghakimi, mereka akan tumbuh sebagai generasi yang mampu menjaga persatuan bangsa. Kehidupan sosial di Bali sejak lama menjunjung tinggi nilai tatwamasidan menyamabraya, yang mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama. Nilai-nilai lokal ini selaras dengan tujuan pendidikan nasional dan patut dihidupkan kembali dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.

Upaya mencegah diskriminasi sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana di kelas maupun kegiatan sekolah. Guru dapat menata kelompok belajar sehingga setiap anak berkesempatan bekerja sama dengan teman berbeda latar belakang. Sekolah bisa memperkenalkan cerita, lagu, dan budaya dari berbagai daerah agar anak merasa bangga terhadap keberagaman. Perayaan hari besar lintas agama dan kegiatan berbagi cerita tentang tradisi keluarga dapat membuka wawasan bahwa perbedaan bukanlah pemisah, melainkan sesuatu yang memperkaya kehidupan. Selain itu, guru perlu menjadi teladan melalui tutur kata dan sikap yang menghargai semua anak. Ketika ada perilaku merendahkan, guru harus segera memberikan respons yang tepat agar anak memahami bahwa tindakan tersebut tidak bisa dibiarkan.

Kolaborasi antara sekolah dan orang tua juga berperan besar. Apa yang anak dengar di rumah sangat memengaruhi cara mereka bertindak di sekolah. Jika orang tua masih membiasakan candaan yang merendahkan kelompok tertentu, anak akan menganggap sikap itu wajar. Karena itu, komunikasi antara guru dan orang tua harus terjalin dengan baik agar pendidikan karakter berlangsung konsisten. Anak belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan dengar setiap hari.

Diskriminasi di sekolah tidak boleh dianggap sebagai bagian dari kelucuan masa kecil. Luka yang ditinggalkannya mungkin tidak terlihat, tetapi bisa membekas hingga mereka dewasa. Setiap anak berhak merasa aman, dihargai, dan disayangi dalam ruang belajarnya sendiri. Bila kita membiarkan diskriminasi tumbuh, itu sama saja dengan membiarkan masa depan anak tergores rasa takut dan kurangnya kepercayaan diri. Sebaliknya, jika sekolah menjadi ruang yang inklusif, kita sedang menyiapkan generasi yang lebih berempati, lebih bijaksana, dan lebih manusiawi.

Pada akhirnya, perbedaan seharusnya menjadi alasan untuk saling mengenal, bukan untuk menjauh. Upaya menjaga hal itu bermula dari tempat sederhana yang sangat berpengaruh, yaitu sekolah dasar. Ketika setiap anak merasa diterima tanpa memedulikan siapa dirinya, kita sedang membangun fondasi bangsa yang benar-benar menghargai kemanusiaan. Tidak ada seorang pun yang pantas merasa salah hanya karena ia berbeda.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *