MEMILIH CERDAS MENCARI PEMIMPIN YANG BERKUALITAS

Oleh : Komang Muliasih, Prodi S1 Akuntansi, Universitas Pendidikan Ganesha

Di tahun 2024 mendatang merupakan tahun pesta demokrasi yang dimana akan ada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang dilakukan bersamaan dengan Pemilihan Umum DPR, DPD dan DPRD di seluruh Indonesia. Pemilu 2024 merupakan pemilu ke-6 setelah reformasi dan diharapkan pemilu 2024 nantinya bisa berkaca dari pemilu sebelumnya agar lebih baik dan tentunya penyelenggaraan pemilu dapat dilaksanakan secara demokratis, transparan, dan berdasarkan asas pemilu yang luber dan jurdil.

Sebagai warga negara Indonesia yang sudah memiliki hak pilih, berhak dalam menentukan pilihan dan wajib untuk memilih pada pemilu 2024 nantinya. Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI August Mellaz mengatakan komposisi pemilih dalam Pemilu 2024 akan didominasi oleh kelompok usia muda. Jumlah kelompok ini disebut mencapai 60% dari total pemilik suara sah.

Menentukan pilihan dan siapa yang akan dipilih adalah salah satu kebingungan bagi para pemiih terhkusus yang tidak paham akan politik menjadi masalah sulit dalam menentukan suara. Kampanye menjelang pemilu nantinya adalah bagian dari serangkaian pemilu. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kampanye adalah sebuah gerakan (tindakan) serentak (untuk melawan, mengadakan aksi, dan sebagainya) atau kegiatan yang dilaksanakan` oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan dalam parlemen dan sebagainya untuk mendapat dukungan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara. Biasanya akan banyak sekali uang yang akan untuk mendapatkan dukungan. Dizaman sekarang ini tidak dapat dipungkiri uang itu adalah segalanya, karena segalanya membutuhkan uang, semua akan mudah jika ada uang. tapi tidak semua dapat dbeli dengan uang apalagi hak suara kita dalam memilih pemimpin dimasa depan. Dalam pemilu, kita mengenal asas luber dan jurdil. Apa itu luber jurdil? Luber jurdil adalah asas penyelenggaraan Pemilu di Indonesia. Luber jurdil adalah singkatan dari langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Hal ini diatur dalam Pasal 2 UU No. 7 Tahun 2017 (UU Pemilu) yang bunyinya sebagai berikut :”Pemilu dilaksanakan berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.” bunyi Pasal 2 UU Pemilu. Dari beberapa asas pemilu yang ada, mari kita berfokus ke asas jujur. Asas jujur mengharapkan bahwa setiap penyelenggara Pemilu, aparat pemerintah, peserta Pemilu, pengawas Pemilu, pemantau Pemilu, pemilih, serta semua pihak yang terkait dalam penyelenggaraan Pemilu harus bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Namun, jika memberikan uang suara kita bisa dibeli. Apakah itu sudah termasuk menerapkan asas jujur? Politik uang dapat mendegradasi suara publik pada momen pesta demokrasi lima tahunan tersebut, sehingga harus dihindari. Diharapkan pelaksanaan pemilu betul-betul dimaksudkan untuk memilih wakil-wakil rakyat yang berkualitas, memiliki integritas moral dan yang paling penting wakil-wakil tersebut mencerminkan kehendak rakyat.

Memilih dengan cerdas dan kritis  sangat perlu untuk diimplementasikan oleh para pemilih, terutama anak muda, karena suara kita menjadi penentuan bagaimana arah bangsa Indonesia selama 5 (lima) tahun kedepan dengan dipimpin oleh calon pemimpin yang berkualitas. Selain itu perlu juga kita sebagai warga negara terutama anak muda yang sudah memiliki hal pilih menggunakan hak pilihnya sebaik mungkin dengan memilih secara cerdas, kritis, sesuai asas luber jurdil dan tentunya tidak golput.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *