Menurunnya Penggunaan Bahasa Bali di Kalangan Remaja: Analisis Sosial dan Kultural

Oleh: Ni Putu Anika, Ni Kadek Dian Rahayu Simpangan

Penurunan yang terlihat dalam pemanfaatan bahasa Bali di antara populasi remaja merupakan fenomena sosiokultural penting yang memerlukan penyelidikan ilmiah, karena masalah ini melampaui masalah linguistik belaka dan merangkum perselisihan mendalam antara identitas lokal dan imperatif global.Unsur penyebab utama yang berkontribusi terhadap kemunduran ini adalah keunggulan fungsional Bahasa Indonesia dan Inggris, yang telah memicu transisi linguistik bertahap.Bahasa Indonesia secara tegas berlaku sebagai bahasa utama bangsa, mengatur fungsi administrasi dan kerangka pendidikan, sehingga menjadikannya sumber daya yang tak ternilai bagi modal ekonomi dan pengembangan profesional.Bahasa Bali sering menemukan dirinya terpinggirkan, dianggap relevan semata-mata dalam ranah upacara tradisional atau interaksi dengan kelompok yang lebih tua, akibatnya merusak relevansi fungsionalnya dalam pasar tenaga kerja dan lingkungan pendidikan formal.

Di dalam institusi pendidikan, banyak remaja Bali menunjukkan kecenderungan yang lebih besar untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, bahkan ketika berbicara dengan teman sebaya yang berasal dari daerah yang sama. Di platform sosial digital, mereka sering menggunakan bahasa Inggris dalam keterangan mereka untuk memproyeksikan persona modern dan “internasional”. Tren ini menggambarkan berkurangnya ruang sosial yang ditempati oleh bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari remaja. Bahasa ibu, yang sebelumnya merupakan sumber kebanggaan dan identitas, sekarang beralih menjadi simbol tradisionalisme yang dianggap tidak sesuai dengan citra kontemporer pemuda modern. Transformasi ini menunjukkan bahwa preferensi linguistik generasi muda semakin dipengaruhi tidak hanya oleh signifikansi budaya, tetapi juga oleh faktor-faktor pragmatis dan simbolis yang berkaitan dengan status sosial yang terkait dengan bahasa dominan.

Kondisi ini diperburuk oleh konsekuensi pariwisata dan kekuatan globalisasi yang meresap. Bahasa Inggris sekarang dianggap memiliki modal budaya yang besar di Bali. Dari sudut pandang teoretis Pierre Bourdieu, remaja secara strategis memilih untuk mengakumulasi modal yang dihargai secara sosial, karena kemahiran dalam bahasa Inggris terkait dengan modernitas dan akses tanpa batas ke peluang global. Dalam perspektif remaja, baik Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris memberikan manfaat sosial yang unggul. Akibatnya, terjadinya bilingualisme tampaknya menjadi subtraktif dari bahasa Bali. Kemahiran mereka dalam bahasa ibu mereka berkurang karena kompetensi mereka dalam dua bahasa unggulan meningkat. Hal ini menimbulkan pergeseran kode (code-switching) di mana remaja menunjukkan preferensi untuk menggunakan Bahasa Indonesia, bahkan dalam konteks keluarga atau teman sebaya.

Terbukti, kecenderungan remaja untuk memilih bahasa Indonesia dan Inggris didukung oleh pertimbangan rasional. Dalam lanskap ketenagakerjaan yang membutuhkan mobilitas dan profesionalisme, kompetensi bilingual seperti itu tidak dapat disangkal merupakan modal yang signifikan. Namun demikian, justru karena alasan inilah bahasa Bali harus diberikan platform baru untuk mencapai nilai fungsional yang setara, daripada ditinggalkan. Bahasa asli tidak perlu bertentangan dengan kemajuan; sebaliknya, mereka dapat berfungsi sebagai saluran antara identitas budaya dan daya saing global.

Secara antropologis, peran keluarga sebagai agen sosialisasi utama juga telah berkurang. Banyak orang tua sekarang secara pragmatis memilih untuk menggunakan Bahasa Indonesia sebagai media komunikasi dalam rumah tangga, menyadari bahwa Bahasa Bali tidak lagi memberikan manfaat sosial ekonomi yang cukup besar bagi masa depan anak-anak mereka. Keputusan ini secara tidak sengaja merusak pembentukan Bahasa Bali sebagai bahasa ibu yang kuat. Selain itu, kelangkaan Bahasa Bali dalam media digital dan hiburan arus utama (seperti film, musik, dan platform media sosial) semakin mempercepat proses marginalisasi. Ruang publik yang dihuni oleh remaja sebagian besar dipenuhi dengan konten dalam bahasa Indonesia dan Inggris, sehingga memutuskan koneksi yang diperlukan untuk transmisi bahasa informal.

Jika ini terus berlanjut, masa depan Bahasa Bali sebagai entitas linguistik yang hidup dan berkembang sangat terancam. Bahasa Bali saat ini berisiko dianggap sebagai bentuk komunikasi “kuno” atau tidak signifikan, yang pada akhirnya dapat menyebabkan asimilasi linguistik total di antara generasi berikutnya. Upaya yang diarahkan pada revitalisasi harus melampaui batas-batas kerangka pendidikan dan menggarisbawahi relevansi kontemporer bahasa Bali dalam masyarakat modern.Entitas pemerintah daerah dapat terlibat dalam upaya kolaborasi dengan organisasi pemuda inovatif untuk membuat konten digital dalam bahasa Bali, meliputi podcast, film pendek, dan komposisi musik modern. Lembaga pendidikan juga dapat mengadakan Hari Bahasa Bali mingguan, di mana semua pertukaran dilakukan di Bahasa Bali dalam lingkungan yang menarik dan menyenangkan. Dalam lingkungan domestik, orang tua dapat memperkenalkan praktik percakapan sehari-hari dalam bahasa Bali untuk periode yang ditentukan, sehingga memungkinkan bahasa ini berkembang dalam konteks yang paling organik, yaitu unit keluarga.

Hanya melalui intervensi yang komprehensif, Bahasa Bali dapat merebut kembali statusnya sebagai komponen penting dan bermakna dari identitas pemuda Bali, sekaligus mengatasi aspirasi mereka untuk modal sosial dan ekonomi global. Bahasa Bali bukan hanya komunikasi belaka, ia mewujudkan nuansa budaya, memori kolektif, dan identitas individu. Jika demografis yang lebih muda menunjukkan keengganan dalam penggunaannya, itu menunjukkan bahwa yang kurang bukan hanya kosakata, tetapi juga hubungan dengan diri intrinsik mereka.

SUMBER:

Insani, N. N., & Ridha, M. R. (2025). Ancaman Pergeseran Bahasa Daerah Dan Dampaknya Terhadap Keberlanjutan Warisan Budaya Di Era Global. Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara, 1(5), 91-96. https://doi.org/10.59435/menulis.v1i5.236

Prilyasinta, N. W., & Purnawan, I. K. (2025). Revitalising Indigenous language: students’ attitudes and parental involvement in Balinese language learning. Journal of Multilingual and Multicultural Development, 1-17. https://doi.org/10.1080/01434632.2025.2566375

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *