Mukjizat yang Tak Terlihat: Ketika I‘jaz Al-Qur’an Diuji oleh Dunia Modern

Oleh : Farhanah Mahasiswi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Suska Riau

Di tengah kemajuan sains, teknologi, dan kecerdasan buatan yang mampu menciptakan berbagai keajaiban buatan, pertanyaan tentang kemukjizatan Al-Qur’an (i‘jaz al-Qur’an) kembali mengemuka. Jika dahulu mukjizat dipahami sebagai sesuatu yang melampaui kemampuan manusia, maka kini batas itu tampak kabur. Komputer dapat menulis puisi, kecerdasan buatan bisa menciptakan teks mirip wahyu, dan manusia seolah menyaingi kemampuan yang dulu dianggap “ilahi”. Lantas, masih adakah ruang bagi konsep i‘jaz di era modern ini?

Secara klasik, i‘jaz al-Qur’an dimaknai sebagai ketidakmampuan manusia menandingi keindahan, kedalaman makna, dan susunan Al-Qur’an. Para ulama seperti al-Baqillani dan al-Jurjani menjelaskan bahwa keunikan Al-Qur’an terletak pada nazhm-nya susunan kata dan makna yang melampaui karya sastra manusia. Namun, konsep ini dibangun atas dasar keimanan: keindahan Al-Qur’an bukan sekadar estetika, melainkan bukti kenabian dan kehadiran Tuhan dalam bahasa. Di sinilah muncul perdebatan menarik ketika konsep ini dinilai oleh dunia luar Islam.

Sebagian orientalis dan akademisi non-Muslim, seperti Theodor Nöldeke atau Montgomery Watt, menilai keindahan Al-Qur’an sebagai hasil evolusi sastra Arab, bukan mukjizat ilahi. Bagi mereka, Al-Qur’an adalah teks religius yang luar biasa, tetapi tetap dapat dijelaskan secara historis dan kultural. Namun, tidak sedikit pula cendekiawan Barat yang justru mengakui keunikan spiritual dan retorika Al-Qur’an. Angelika Neuwirth, misalnya, menyebut Al-Qur’an sebagai teks yang “mengubah sejarah pengalaman religius manusia”, menandakan bahwa daya transformatifnya tak bisa direduksi hanya pada aspek sastra.

Dunia modern memaksa kita meninjau ulang makna i‘jaz. Apakah mukjizat harus selalu bersifat supranatural, atau justru spiritual dan eksistensial? Ketika logika saintifik mendominasi, banyak orang menuntut bukti empiris atas segala klaim keajaiban. Padahal, i‘jaz bukan sekadar tantangan intelektual, tetapi juga pengalaman eksistensial: bagaimana sebuah teks mampu menggerakkan kesadaran manusia menuju Tuhan, menenangkan hati, dan membentuk peradaban. Dalam kerangka ini, i‘jaz menjadi mukjizat yang “tak terlihat”  tidak karena ia hilang, tetapi karena manusia modern kehilangan kepekaan rohaninya.

Fenomena ini terlihat jelas ketika kecerdasan buatan mampu menulis ayat-ayat yang indah secara linguistik, tetapi tanpa ruh spiritual. Mesin dapat meniru pola bahasa, tetapi tidak dapat menciptakan getaran batin yang sama. I‘jaz bukan sekadar permainan kata, melainkan daya hidup yang memancar dari kehadiran Ilahi di balik teks. Karena itu, kemukjizatan Al-Qur’an tidak dapat diukur hanya dari struktur bahasanya, tetapi dari dampaknya terhadap hati dan sejarah manusia.

Dalam konteks globalisasi dan krisis spiritual dewasa ini, memahami i‘jaz sebagai mukjizat yang tak terlihat justru memberi makna baru. Ia mengajarkan bahwa wahyu tidak melawan sains, tetapi melampauinya. Al-Qur’an tidak menyaingi teknologi, tetapi memberi arah bagi kemanusiaan agar tidak kehilangan orientasi moral dan makna hidup. Mukjizatnya terletak bukan pada kemampuan menaklukkan logika, melainkan pada kekuatan menghidupkan nurani.

Mungkin, di era yang penuh kebisingan informasi ini, mukjizat terbesar Al-Qur’an bukan lagi tentang ayat yang tak bisa ditandingi, melainkan tentang hati yang masih bisa tersentuh olehnya. I‘jaz tetap hidup  bukan sebagai bukti masa lalu, tapi sebagai cahaya yang terus menuntun manusia modern menemukan kembali dimensi ketuhanan dalam dirinya.

Penutup

Pada akhirnya, i‘jaz al-Qur’an bukan hanya peristiwa masa lalu yang meneguhkan kerasulan, tetapi juga pesan abadi tentang kehadiran Tuhan dalam sejarah manusia. Di zaman di mana manusia sibuk menciptakan “keajaiban buatan”, Al-Qur’an mengingatkan bahwa mukjizat sejati tidak selalu tampak di mata, melainkan terasa di hati yang masih mau mendengarkan kebenaran. Mungkin inilah tantangan terbesar kita hari ini: bukan untuk membuktikan mukjizat itu, melainkan untuk tetap mampu merasakannya.

Referensi

  1. Al-Baqillani, Abu Bakr. I‘jaz al-Qur’an. Beirut: Dar al-Ma‘rifah, 1988.
  2. Al-Jurjani, Abdul Qahir. Dalā’il al-I‘jāz. Kairo: Maktabah al-Khanji, 1992.
  3. Watt, W. Montgomery. Bell’s Introduction to the Qur’an. Edinburgh: Edinburgh University Press, 1970.
  4. Neuwirth, Angelika. The Qur’an and Late Antiquity: A Shared Heritage. Oxford: Oxford University Press, 2019.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *