PENTINGNYA PANCASILA PADA PROFESI PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA

Oleh: Rosaliana Saputri dan Hairunisa, Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Teknologi Industri, Fakultas Teknik Dan Kejuruan, Universitas Pendidikan Ganesha

Pancasila memiliki peran penting dalam pengembangan kompetensi Prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, keadilan, dan persatuan sangat relevan untuk membentuk tenaga pendidik yang mampu memahami dan mendukung kesejahteraan keluarga, menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif, serta mengembangkan inovasi dalam pendekatan kebijakan keluarga. Integrasi Pancasila dalam kurikulum akan memastikan bahwa lulusan tidak hanya memiliki keahlian teknis tetapi juga kesadaran sosial yang mendalam untuk melayani masyarakat dengan baik. Pancasila memiliki peran sentral dalam pengembangan kompetensi prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila, mahasiswa dapat memahami dan menerapkan prinsip-prinsip kebijakan yang mendukung kesejahteraan keluarga secara holistik. Dalam konteks ini, keberagaman nilai-nilai Pancasila memberikan landasan untuk pengembangan keterampilan interpersonal, pemahaman multikultural, dan kemampuan analisis terhadap berbagai isu sosial yang memengaruhi kesejahteraan keluarga.

Selain itu, Pancasila juga sebagai pedoman etika bagi calon tenaga profesional di bidang ini, umtuk membentuk karakter yang konsisten dengan nilai-nilai moral dan sosial yang dijunjung tinggi. Oleh karena itu, integrasi Pancasila dalam kurikulum prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga menjadi krusial dalam membentuk lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan nilai-nilai kearifan lokal yang kuat. Pancasila memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan kompetensi Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Sebagai dasar negara Indonesia, Pancasila tidak hanya menjadi panduan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi juga memiliki relevansi yang besar dalam konteks pendidikan, khususnya dalam prodi yang fokus pada Kesejahteraan Keluarga.

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa, memberikan landasan spiritual yang kuat bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi mereka. Kesejahteraan keluarga tidak hanya bersifat materi, tetapi juga melibatkan aspek spiritual. Dengan memahami nilai-nilai spiritual dan kepercayaan yang mendasari Pancasila, mahasiswa dapat membimbing keluarga menuju kehidupan yang lebih bermakna dan berarti.
  2.  Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, menciptakan kesadaran akan pentingnya pelayanan sosial dan keadilan dalam konteks kesejahteraan keluarga. Mahasiswa prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dapat menggunakan prinsip ini sebagai dasar untuk mengembangkan program-program yang mendukung keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
  3. Persatuan Indonesia, menjadi landasan untuk mengembangkan keterampilan kolaborasi dan kerjasama. Dalam prodi ini, mahasiswa belajar untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Hal ini penting untuk mencapai tujuan kesejahteraan keluarga yang holistik dan berkelanjutan.
  4.  Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, menciptakan kesadaran partisipatif. Mahasiswa diajarkan untuk melibatkan keluarga dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kesejahteraan mereka. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi ahli dalam memberikan nasihat, tetapi juga fasilitator untuk memperkuat partisipasi dan kemandirian keluarga.
  5.  Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, memberikan dasar untuk membahas ketidaksetaraan dan ketidakadilan dalam masyarakat. Mahasiswa prodi ini dapat menggunakan pemahaman ini untuk merancang program-program yang mendukung keluarga yang kurang mampu, sehingga menciptakan kesejahteraan yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pancasila memiliki peran sentral dalam pengembangan kompetensi mahasiswa Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (Prodi PKK). Sebagai nilai-nilai dasar Indonesia, Pancasila menjadi fondasi moral dan etika yang membimbing mahasiswa dalam merentang kapasitas kognitif dan praktik lapangan. Pertama, Pancasila memandu mahasiswa dalam merangkai kompetensi teknis dengan kearifan lokal. Asas Ketuhanan Yang Maha Esa memotivasi pemahaman mendalam tentang nilai-nilai keagamaan dalam konteks kesejahteraan keluarga. Sementara asas Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mendorong mahasiswa untuk mengembangkan empati dan keterlibatan sosial dalam memberikan dukungan holistik kepada keluarga. Kedua, Pancasila menjadi pemantik untuk memahami keberagaman dalam Prodi PKK. Asas Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan mahasiswa untuk menghargai perbedaan dan memanfaatkannya sebagai kekayaan dalam merancang program kesejahteraan yang inklusif. Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan memberi dorongan kepada mahasiswa untuk melibatkan keluarga dalam pengambilan keputusan, meningkatkan efektivitas intervensi mereka. Terakhir, Pancasila menciptakan landasan etis dalam merancang dan menjalankan program kesejahteraan keluarga. Asas Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia mendorong mahasiswa untuk mengurangi disparitas dan memastikan bahwa setiap keluarga dapat menikmati hak-hak dasar. Dengan demikian, Pancasila bukan hanya menjadi teori etika, melainkan pedoman praktis yang membimbing mahasiswa Prodi PKK menuju pengembangan kompetensi yang holistik dan berkelanjutan. Aspek Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila mengakar mahasiswa  pada nilai-nilai spiritualitas, yang penting dalam menghadapi kompleksitas isu-isu keluarga. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mendorong pengembangan empati dan kepekaan sosial, sementara Persatuan Indonesia membangun semangat kebersamaan dalam mendukung kesejahteraan keluarga.

Pancasila juga mengajarkan mahasiswa PKK untuk melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan, sesuai dengan prinsip Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menjadi dasar dalam merancang program kesejahteraan keluarga yang berfokus pada pemerataan dan keadilan. Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila, mahasiswa PKK dapat mengembangkan kompetensi teknis dan interpersonal yang seimbang. Mereka bukan hanya menjadi ahli dalam bidang kesejahteraan keluarga, tetapi juga individu yang bertanggung jawab, beretika, dan mampu berkontribusi positif pada masyarakat. Dengan demikian, Pancasila menjadi pilar penting dalam membentuk karakter dan kompetensi mahasiswa Prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga untuk masa depan yang lebih baik.

Secara keseluruhan, Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai panduan nilai-nilai dalam pengembangan kompetensi mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Melalui penerapan nilai-nilai Pancasila, diharapkan lulusan program studi ini dapat menjadi agen perubahan yang berkontribusi positif terhadap kesejahteraan keluarga di Indonesia. Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila, mahasiswa di Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga dapat mengembangkan kompetensi mereka dengan lebih holistik. Mereka tidak hanya menjadi profesional yang kompeten secara teknis, tetapi juga penuh integritas, memiliki nilai-nilai moral yang kuat, dan berkontribusi positif dalam memajukan kesejahteraan keluarga di Indonesia. Secara keseluruhan, Pancasila bukan hanya menjadi semacam norma hukum dan moral dalam prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, tetapi juga menjadi panduan yang menyeluruh untuk pengembangan kompetensi mahasiswa. Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat secara keseluruhan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *