By: Aretha Nathania
Saya ingin memulai dengan kutipan terkenal yang saya pegang teguh, dari seorang pendeta dan penulis evangelis Amerika, Rick Warren, yang diambil dari buku terlarisnya, The Purpose Driven Life.
Bunyinya seperti ini,
“We are products of our past, but we don’t have to be prisoners of it.“
Frasa yang pendek namun bermakna — frasa yang membawa cahaya di masa-masa tergelap dalam hidup kita.
Ketika saya berusia sembilan tahun, saya masih ingat pertama kali saya belajar naik sepeda di ruang terbuka di luar rumah saya. Lutut saya memar, telapak tangan lecet, tetapi saya tidak peduli — jatuh adalah bagian paling menyenangkan dari prosesnya. Setiap kali saya bangun, dunia adalah pemandu sorak nomor satu saya: orang tua saya, guru, dan teman-teman, bahkan orang asing yang lewat. Saya masih ingat bagaimana angin menyapu wajah saya, suara roda yang patah yang kacau, dan tawa yang menggema dari suara orang tua saya saat mereka menahan saya. Tidak ada rasa takut gagal — hanya rasa ingin tahu dan kegembiraan. Setiap memar adalah bukti keberanian, bukan kekalahan. Kesalahan tidak memalukan, itu berarti saya sedang belajar. Ketika saya tumbuh dari kepolosan, jatuh tidak lagi menjadi lucu: itu menjadi kekurangan, alasan bagi orang untuk tertawa, bergosip, dan memunggungi. Ironis, bukan?
Mungkin, inilah saatnya jarak dimulai. Kita tidak pernah sengaja menciptakannya, sayangnya, seiring bertambahnya usia, tekanan dan ekspektasi dari masyarakat semakin besar. Maka, satu-satunya hal yang membantu kita tetap waras adalah membangun tembok, tanpa kata sandi untuk masuk, di mana kita bisa bebas berbuat salah tanpa rasa bersalah, dan memiliki kehendak bebas untuk mengungkapkan apa pun yang ada di pikiran kita tanpa takut dihakimi. Seiring tembok itu semakin tinggi, saya menyadari betapa sulitnya membiarkan orang lain masuk, bahkan yang paling dekat dengan kita. Saya mulai menyaring kata-kata saya, menyembunyikan rasa tidak aman saya, dan mengenakan topeng seolah-olah semuanya akan baik-baik saja padahal tidak. Setiap kali saya melangkah keluar dari tembok itu, rasanya semakin keras dan dingin, dan saya belajar bahwa semua yang telah diciptakan itu sepadan.
Akibatnya, alam bawah sadar mengubah kesalahan-kesalahan itu menjadi cermin, seringkali cermin yang terdistorsi, yang mengubah cara kita memandang diri sendiri. Tidak seperti di masa kanak-kanak, kesalahan dipandang sebagai kekurangan yang membangun jembatan antara diri kita yang dulu dan diri kita yang sekarang. Kita melihat melalui lensa apa yang telah kita lakukan atau gagal capai. Kesalahan terputar berulang-ulang seperti lagu favorit di kepala kita, hal-hal yang membuat kita terjaga di malam hari, dan tak henti-hentinya membuat kita tertidur.
Dulu saya berpikir penyembuhan berarti memulai kembali – menyingkirkan semua yang telah menyakiti dan membutakan kita. Namun kenyataannya: sejauh apa pun saya berlari, masa lalu selalu merayap masuk, perlahan tapi pasti, menunggu untuk dipahami.
Namun, seperti yang pernah dikatakan oleh Leader BTS, RM, dalam pidatonya di PBB, hal itu terus terpatri dalam ingatan saya sejak saat itu, “Mungkin saya melakukan kesalahan kemarin, tetapi saya yang kemarin tetaplah saya. Hari ini, saya adalah saya dengan segala kesalahan dan kekhilafan saya. Besok, saya mungkin sedikit lebih bijaksana, tetapi itu juga akan menjadi diri saya.” Hal itu mengingatkan kita bahwa mencintai diri sendiri bukanlah tentang kembali ke versi lama kita sebelum melakukan kesalahan, tetapi belajar untuk mencintai diri kita yang telah tumbuh karena akumulasi semua “yang disebut” kekurangan kita. Memahami bahwa kesalahan adalah kekuatan yang tidak mendefinisikan atau membatasi telah membuat kita menjadi lebih pemaaf terhadap diri sendiri. Saya menyadari bahwa pertumbuhan bukanlah sesuatu yang harus kita kejar atau lawan; melainkan sebuah proses yang menuntut kesabaran dan kemauan yang berkelanjutan untuk menempuh jalan panjang yang pada akhirnya akan membawa kita ke tempat-tempat yang tak pernah kita bayangkan. Hal ini juga dapat membantu mengubah cara kita memandang orang lain secara berbeda, alih-alih menilai mereka berdasarkan tindakan mereka, kita harus melihat kisah dan perjuangan yang mendorong mereka untuk berperilaku dengan cara tertentu.
Mungkin, kita membangun tembok, besar dan tinggi, bukan karena ingin menjauhkan orang lain, melainkan kita merindukan seseorang yang mengatakan bahwa kita masih layak dicintai meskipun ada retakan. Memaafkan diri sendiri bukanlah jalan instan, tetapi seiring waktu, kesabaran, dan keyakinan, kita mulai menyadari bahwa setiap kesalahan memiliki tujuan. Memaafkan membimbing, merendahkan hati, dan menguatkan kita. Yang terpenting, memaafkan membawa kita lebih dekat untuk memahami arti sebenarnya menjadi manusia, yang tidak sempurna namun indah. Saat ini, saya masih belajar menjembatani jurang antara diri saya yang dulu dan diri saya yang sekarang, tetapi masa lalu bukanlah sesuatu yang harus dihapus — melainkan sesuatu yang harus dirangkul. Karena di suatu tempat di balik jarak, masa depan yang lebih baik dan cerah menanti.





