Oleh : Mariza Laili, mahasiswa UIN SUSKA RIAU
Beberapa abad yang lalu, manusia hanya bisa menatap langit tanpa tahu dari mana semua ini berasal. Kemudian datanglah para ilmuwan modern dengan membawa teori Big Bang, yaitu sebuah ledakan besar yang diyakini sebagai awal mula terbentuknya alam semesta. Namun yang lebih menariknya lagi, jauh sebelum diciptakannya teleskop, Al-Qur’an telah menyebutkan hal serupa dengan bahasa yang luar biasa ringkas tetapi dalam maknanya.
Dentuman Besar adalah teori tentang asal-usul alam yang menjelaskan alam tercipta dari pengembangan yang begitu besar berdasarkan teori relativitas umum dan fisika kuantum. Pengembangan alam berasal dari satu titik terpadu yang begitu mampat. Istilah Big Bang perlu dipahami dengan tepat, walau terjemahannya berarti “Dentuman Besar‟, sebenarnya Dentuman Besar bukan kejadian suatu ledakan di dalam ruang karena Dentuman Besar adalah saat kelahiran ruang dan waktu. Dentuman Besar memprediksikan bahwa alam semesta bermula 13,8 miliar tahun yang lalu.
Allah ta’ala berfirman dalam Q.S Al-Anbiya ayat 30:
اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ
Artinya: “Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi, keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami memisahkan keduanya dan Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air? Maka, tidakkah mereka beriman?”
Dalam Tafsir Al-Misbah (Jilid 8, 442 – 443), Quraish Shihab menafsirkan kata “رتقا” ratqan dari segi bahasa berarti terpadu, sedang kata “فتقناهما” fataqnahuma dari kata “فتق” fataqa yang berarti terbelah atau terpisah. Para ulama berbeda pendapat mengenai ayat ini, ada yang memahaminya dalam arti langit dan bumi merupakan satu gumpalan yang terpadu, kemudian Allah membelah langit dan bumi dengan menurunkan hujan dari langit dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di bumi.
Selain Q.S. Al-Anbiya ayat 30, beberapa ayat lain juga menunjukkan kemukjizatan Al-Qur’an dari sisi ilmiah mengenai alam semesta. Salah satunya dalam Q.S. Adz-Dzariyat ayat 47, Allah berfirman:
وَالسَّمَاۤءَ بَنَيْنٰهَا بِاَيْىدٍ وَّاِنَّا لَمُوْسِعُوْنَ
Artinya: “Langit Kami bangun dengan tangan (kekuatan Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskan(-nya).” (Aż-Żāriyāt [51]:47)
Menariknya, penemuan tentang ekspansi alam semesta yang disinggung dalam Q.S. Adz-Dzariyat ayat 47 kini terus dikonfirmasi oleh berbagai penelitian modern. Salah satu yang paling berpengaruh adalah pengamatan teleskop luar angkasa Hubble sejak peluncurannya pada tahun 1990. Melalui pengamatan bintang-bintang Cepheid dan ledakan supernova Tipe Ia, para astronom berhasil menyusun apa yang disebut sebagai “tangga jarak kosmik”, metode untuk mengukur kecepatan mengembangnya alam semesta.
Penelitian besar yang dipimpin oleh Wendy Freedman dan Allan Sandage berhasil menentukan apa yang kini dikenal sebagai konstanta Hubble, yaitu kecepatan ekspansi alam semesta sebesar sekitar 73 kilometer per detik per megaparsec. Angka ini menunjukkan bahwa galaksi-galaksi saling menjauh satu sama lain secara terus-menerus, membuktikan bahwa alam semesta memang sedang “meluas”.
Dari penjelasan di atas, dapat kita lihat bahwa ada kesamaan antara Q.S Al-Anbiya:30, Q.S Adz-Zariyat: 47, penafsiran mufassir seperti Quraish Shihab dengan penemuan yang ditemukan oleh para ilmuwan modern sehingga seharusnya tidak ada keraguan di dalam Al-Qur’an sebagaimana firman Allah Swt dalam Q.S Al-Baqarah ayat 2:
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
Artinya: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,” (Al-Baqarah [2]:2).
Fenomena seperti ini seharusnya membuat manusia sadar bahwa ilmu pengetahuan bukanlah tandingan bagi wahyu, melainkan penegas dari kebesaran-Nya. Sains berkembang karena Allah memberi manusia akal untuk meneliti, tapi kebenaran tertinggi tetap bersumber dari firman-Nya. Teori Big Bang hanyalah salah satu dari banyak contoh kecil dari begitu banyak bukti bahwa Al-Qur’an lebih dulu menyinggung hal-hal yang baru dipahami manusia berabad-abad kemudian, ilmu pengetahuan hanyalah sarana untuk menegaskan kebesaran wahyu, bukan menandinginya.
Banyak orang di zaman sekarang mencari kebenaran melalui data dan eksperimen. Namun, mereka kadang-kadang lupa bahwa ada Zat di balik semua hukum alam yang rumit itu yang mengatur dan menyeimbangkan semuanya. Al-Qur’an bukan buku sains, tetapi ia adalah kitab yang mengandung prinsip-prinsip yang menuntun manusia agar tidak tersesat dalam kebodohan.
Bagi penulis, ini menunjukkan bahwasanya Al-Qur’an itu selalu selangkah di depan pengetahuan manusia, sebab ia memuat kebenaran yang bahkan ilmuwan modern butuh waktu bertahun-tahun untuk membuktikannya. Hal ini juga menunjukkan bahwasanya Al-Qur’an menginginkan kita untuk terus mencari tahu kebenaran dari firman Allah, agar kita belajar darinya dan memahami betapa besarnya kekuasaan Allah.
Daftar Pustaka:
Gigih Saputra. (2019). Penciptaan Alam Semesta Menurut Harun Yahya: Studi Kritis Perspektif Kosmologi Modern, Kosmologi Islam, dan Teologi Alam. Tesis. Surabaya.
Kementerian Agama RI. (2005). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Depag RI.
NASA. (2023). Hubble Reaches New Milestone in Mystery of Universe’s Expansion Rate. Diakses dari https://science.nasa.gov.
Q.S. Al-Anbiya’ Ayat 30: Teori Big Bang dalam Perspektif Al-Qur’an. (n.d.). Diakses dari https://tafsiralquran.id/q-s-al-anbiya-ayat-30-teori-big-bang-dalam-perspektif-alquran/


