Penulis : Sopia Gobai, Mahasiswa Program Doktoral (S3) FKM Universitas Hasanuddin
Bayangkan jika kita sakit dan butuh dokter, tapi rumah sakit terdekat berjarak ratusan kilometer dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik perahu selama berjam-jam. Inilah kenyataan yang dihadapi banyak masyarakat di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Padahal, layanan kesehatan itu hak semua orang, termasuk mereka yang tinggal di pelosok negeri. Tapi, nyatanya, masih banyak tantangan yang membuat akses kesehatan di daerah 3T terasa jauh dari kata adil.
Daerah 3T punya kondisi geografis yang menantang, banyak daerah terpencil yang sulit dijangkau. Akibatnya, tenaga medis, fasilitas kesehatan, dan obat-obatan tidak tersebar merata. Coba bayangkan, jumlah dokter di daerah ini masih jauh lebih sedikit dibandingkan daerah lain. Belum lagi, banyak Puskesmas di pedalaman yang kekurangan tenaga kesehatan dan alat medis yang memadai. Jadi, jangan heran kalau banyak masyarakat daerah 3T kesulitan mendapatkan perawatan yang layak.
Sebenarnya, pemerintah sudah mencoba memperbaiki situasi ini lewat berbagai kebijakan, seperti program Nusantara Sehat dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tapi, masalahnya, kebijakan ini belum bisa sepenuhnya menjawab tantangan di lapangan. Rumah sakit dan Puskesmas memang dibangun, tapi akses ke sana tetap sulit. Tanpa jalan yang bagus atau transportasi yang memadai, fasilitas kesehatan itu tetap sulit dijangkau. Banyak tenaga medis juga enggan bertugas di daerah 3T karena fasilitasnya terbatas dan insentifnya kurang menarik. Selain itu, banyak fasilitas kesehatan di daerah ini masih minim alat medis, obat-obatan, bahkan dokter spesialis. Tak jarang, kebijakan kesehatan dibuat tanpa mempertimbangkan budaya lokal, sehingga sulit diterima oleh masyarakat setempat.
Kalau kita ingin layanan kesehatan di daerah 3T lebih baik, harus ada langkah nyata yang lebih efektif. Infrastruktur harus diperbaiki, bukan hanya membangun rumah sakit dan Puskesmas, tetapi juga memastikan aksesnya mudah dijangkau. Klinik keliling dan teknologi telemedicine bisa menjadi solusi untuk menjangkau masyarakat di daerah terpencil. Kesejahteraan tenaga medis juga perlu ditingkatkan, dengan insentif yang lebih layak dan pelatihan khusus agar mereka lebih siap menghadapi tantangan di lapangan. Jaminan Kesehatan Nasional harus bisa diakses oleh semua orang tanpa hambatan administratif, dan sosialisasi harus diperbanyak agar masyarakat tahu hak mereka. Yang tak kalah penting, pendekatan berbasis budaya harus diperkuat dengan melibatkan tokoh adat dan pemuka masyarakat dalam kebijakan kesehatan agar lebih mudah diterima dan efektif di lapangan.
Layanan kesehatan di daerah 3T masih jauh dari kata adil. Banyak masyarakat yang harus berjuang ekstra keras hanya untuk mendapatkan pengobatan dasar. Pemerintah memang sudah berusaha, tapi masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Mulai dari infrastruktur, tenaga medis, hingga pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal. Kalau kita semua mau peduli dan mendorong perubahan, bukan tidak mungkin suatu hari nanti masyarakat daerah 3T bisa mendapatkan layanan kesehatan yang layak, sama seperti daerah lain di Indonesia.


