Oleh : Joel Raven Manurung
Menghadapi tantangan sebagai mahasiswa dan atlet bukanlah perkara mudah. Namun bagi Raka Azis Nandar Saputra, atau yang lebih kerap dipanggil dengan sapaan Nandar yang merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta, keduanya justru menjadi ruang latihan komunikasi interpersonal yang nyata dan bermakna.
Wawancara yang dilakukan di kantin FISIP UNY ini membuka cerita bagaimana komunikasi bukan sekadar teori di kelas, melainkan keterampilan yang ia praktikkan dalam kehidupan sehari-hari, baik saat berada di ruang kuliah maupun di arena pertandingan karate.
“Saya sering dianggap galak karena postur saya. Padahal saya orangnya suka becanda,” tutur Nandar, tersenyum. Di balik ketegasan fisik sebagai atlet, Nandar berusaha menciptakan kesan yang hangat melalui gaya bicara dan sikapnya. Ia sadar, persepsi orang lain dapat menjadi penghalang atau jembatan dalam menjalin hubungan interpersonal.
Sebagai seorang atlet, Nandar kerap berinteraksi dalam konteks yang penuh tekanan dan kompetisi. Namun justru dari situ, ia belajar bahwa komunikasi tidak melulu harus verbal. “Saat bertanding, saya dan pelatih bisa saling mengerti hanya lewat tatapan atau gestur kecil. Itu hasil dari kebiasaan dan kepercayaan,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi nonverbal memegang peran penting dalam sistem komunikasi tim olahraga.
Di sisi lain, kehidupan akademik menuntutnya untuk bersikap terbuka dan etis. Ketika latihan dan jadwal kuliah bertabrakan, Nandar memilih untuk berkomunikasi secara jujur kepada dosen. “Saya nggak mau sembunyi atau cari alasan. Lebih baik saya sampaikan apa adanya, tapi tetap tanggung jawab.”
Pendekatan ini mencerminkan penerapan prinsip etika komunikasi interpersonal yang menekankan pada kejujuran, empati, dan tanggung jawab. Dalam kesehariannya, Nandar juga melatih diri untuk menyesuaikan gaya komunikasi dengan karakter individu yang berbeda-beda. Ia belajar membaca situasi dan merespons dengan cara yang sesuai, sebuah bentuk keterampilan interpersonal yang berkembang melalui pengalaman.
Dari sudut pandang akademis, pengalaman Nandar dapat dikaji melalui teori Interaksi Simbolik dan Penetrasi Sosial. Interaksi simbolik menjelaskan bagaimana makna dibentuk melalui simbol dan gestur dalam interaksi sosial, seperti dalam komunikasi nonverbal Nandar dengan pelatihnya. Sementara teori penetrasi sosial menggambarkan proses membangun kedekatan dari percakapan dangkal menuju komunikasi yang lebih intim, sebuah proses yang juga dialami Nandar dalam menjalin relasi dengan rekan dan dosennya.
Cerita Nandar menjadi contoh nyata bahwa komunikasi interpersonal bukanlah sekadar keterampilan teknis, melainkan bagian dari proses tumbuh sebagai individu yang reflektif, adaptif, dan etis. Di tengah peran ganda yang ia jalani, komunikasi menjadi tali pengikat yang menyatukan dua dunia: akademik dan olahraga.


