Hidup Bukan Feed Instagram: Kenapa Hustle Culture dan FOMO Racuni Anak Muda

Oleh: Nurselvi Fajria, Rossi Galih Kesuma, Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Semarang

Banyak anak muda yang kerap terpapar postingan di media sosial yang mempertontonkan tentang gaya hidup produktif dimana orang-orang yang kerja dari pagi sampai malam, selalu sibuk dan tampak sukses secara materiil. Fenomena ini yang disebut hustle culture, budaya kerja keras tanpa henti yang acap dianggap keren karena menampilkan simbol kedisiplinan, ambisi, dan keberhasilan. Banyak remaja yang kemudian secara tidak sadar terdorong untuk meniru pola hidup serupa yang menganggap semakin sibuk seseorang, maka akan semakin bernilai hidupnya. Berdasarkan laporan Deloitte (2022), sekitar 50% Gen Z mengalami stres tinggi yang disebabkan oleh tekanan pekerjaan dan tuntutan untuk selalu produktif. Hal ini menunjukkan bahwa hustle culture telah menjadi salah satu sumber tekanan psikologis bagi generasi muda yang sedang mencari jati diri dan keseimbangan hidup.

Di lain pihak muncul FOMO (fear of missing out) rasa takut ketinggalan ketika kita membandingkan diri dengan gaya hidup ideal di dunia maya. Ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar Gen Z merasa cemas, minder, dan tertekan karena dorongan untuk terus terhubung serta mengikuti berbagai tren di media sosial. Data survey global menunjukkan bahwa 72% Gen Z mengalami tekanan untuk selalu terhubung secara digital, dan FOMO menjadi salah satu pemicu stress mereka (Darmanto, 2025).

Hustle culture, atau yang sering disebut sebagai budaya kerja berlebihan, sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Istilah “workaholic” sendiri pertama kali dikenalkan oleh Wayne Oates lewat bukunya pada tahun 1971, dan sejak itu makin dikenal luas lewat para tokoh bisnis dunia. Media Indonesia (2021) mencatat tokoh seperti Elon Musk, Jeff Bezos, dan Jack Ma justru memuliakan kerja berlebih melewati batas normal. Budaya ini menanamkan asumsi bahwa produktivitas ekstrem sama dengan sukses, terus berjuang tanpa istirahat demi target ambisius. Sementara itu, FOMO (Fear of Missing Out) digambarkan sebagai perasaan takut ketinggalan sesuatu yang menyenangkan atau menarik yang sedang dialami orang lain. Era media sosial memperparah FOMO: setiap momen menarik langsung ter-publish, membuat generasi muda mudah merasa terlewat bila tidak ikut-ikutan tren.

Budaya Hustle dan FOMO: Ancaman bagi Anak Muda

Normalisasi kerja nonstop sejatinya berujung pada beban berat. Dorongan untuk terus-menerus produktif justru sering kali berujung pada stres berlebihan, bahkan sampai mengalami burnout. Kelelahan fisik dan mental dianggap lumrah, padahal justru membuka risiko depresi dan kecemasan kronis. Akibatnya, banyak anak muda hidup dalam kejar-kejaran ekspektasi tak realistis: setiap target meleset bisa jadi sumber rasa gagal yang mendalam. Di sisi lain, maraknya media sosial menguatkan tekanan itu. FOMO bikin generasi muda terus membandingkan diri dengan “kesempurnaan” orang lain. Mereka kerap cemas atau rendah diri karena melihat kehidupan teman-teman di feed tampak lebih seru, lengkap dengan pencapaian dan kebahagiaan instan. Interaksi tatap muka pun tergerus waktu scrolling; hubungan autentik menjadi korban. Budaya hustle sering menilai keberhasilan dari seberapa sibuk seseorang, bukan dari hasil kerja atau kesejahteraan mentalnya. Akhirnya, anak muda kehilangan ukuran sukses yang manusiawi dan malah terjebak dalam lomba tak berujung.

Daripada terus-terusan merasa bersalah bila istirahat, generasi muda bisa memulai gerakan kecil untuk menyelamatkan keseimbangan hidup. Misalnya:

1.     Prioritaskan istirahat dan kesehatan: Jadwalkan waktu tidur cukup dan olahraga ringan rutin. Ingatlah, kesehatan adalah modal utama untuk bisa produktif dalam jangka panjang. Istirahat bukan berarti mundur, tapi justru bagian penting dari proses untuk melangkah lebih jauh.

2.     Tegakkan batas kerja dan digital: Matikan notifikasi kerja maupun media sosial di luar jam produktif. Tetapkan jam offline agar waktu pribadi tak tersita. Langkah ini bisa membantu mencegah burnout sekaligus mengurangi tekanan akibat rasa takut ketinggalan (FOMO).

3.     Kerja cerdas, bukan nonstop: Gunakan teknik manajemen waktu (misal Pomodoro) agar tetap fokus pada tugas penting. Lebih baik menyelesaikan sedikit pekerjaan dengan kualitas baik daripada bekerja berjam-jam tanpa hasil berarti.

4.     Isi hidup dengan hobi dan relasi: Bangun kembali komunikasi langsung dengan keluarga atau teman lewat hobi, olahraga, atau kegiatan yang disukai. Aktivitas offline mengalihkan pikiran dari kecemasan digital dan memperkuat relasi otentik.

5.     Definisikan ulang sukses pribadi: Ingatlah bahwa “sukses itu personal, bukan hasil salin-tempel dari orang lain”. Tetapkan tujuan sesuai ritme dan nilai sendiri. Tidak perlu ikut-ikutan lomba sibuk-sibukan, hidup lebih bermakna jika kita puas dengan apa yang dicapai sesuai visi kita.

Pada akhirnya, kesehatan mental jauh lebih berharga daripada kesibukan tanpa arti. Tidak ada piala atau hashtag yang menilai siapa paling banyak kerja; kenyataannya “hidupmu bukan lomba siapa yang paling sibuk. Kadang, melangkah perlahan tapi jelas tujuannya jauh lebih baik daripada terburu-buru tanpa tahu ke mana arah yang dituju”. Kalimat pengingat tersebut harus jadi bahan refleksi bagi generasi muda. Daripada terus-terusan terjebak dalam tekanan Hustle Culture dan FOMO, sudah saatnya memprioritaskan hal-hal yang sungguh penting: istirahat, hubungan nyata, dan arti sukses versi kita sendiri. Semoga tulisan ini mengajak pembaca merenung bahwa hidup tak melulu soal seberapa keras kita bekerja atau seberapa sering kita online.

Sumber:

Beritasatu. (2023, Juni 18). FOMO dan pengaruhnya terhadap keputusan finansial generasi muda.                        https://www.beritasatu.com/ekonomi/1103846/fomo-dan-pengaruhnya- terhadap-keputusan-finansial-generasi-muda

Darmanto. (2025). Understanding Gen Z’s mental health challenges (Vol. 3, No. 1, hlm. 38–52). Phenomenon.

Deloitte Touche Tohmatsu Limited. (2022). The Deloitte Global 2022 Gen Z and Millennial Survey (Fieldwork November 2021–January 2022). Deloitte.

Hello       Sehat.      (n.d.).       Apa      itu      FOMO      dan      bagaimana      mengatasinya?. https://hellosehat.com/mental/gangguan-mental/fomo-adalah/

Katadata Insight Center. (2024). Generasi Z Indonesia: Profil, karakter, dan tantangan.

Katadata.co.id. https://katadata.co.id/

Kompas.com. (2023, Februari 7). Hustle culture dan dampaknya terhadap kesehatan mental. https://www.kompas.com/tren/read/2023/02/07/160000465/hustle-culture-dan- dampaknya-terhadap-kesehatan-mental

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Riset kesehatan dasar nasional: Data kesehatan jiwa remaja. https://www.kemkes.go.id/

Tirto.id. (2021, November 4). Elon Musk dan budaya kerja gila yang dinormalisasi. https://tirto.id/elon-musk-dan-budaya-kerja-gila-yang-dinormalisasi-gkxy

The Conversation Indonesia. (2022, Agustus 12). Budaya produktif yang merusak: Mengapa kita perlu rehat. https://theconversation.com/budaya-produktif-yang-merusak- mengapa-kita-perlu-rehat-188444

We        Are       Social,        &        Hootsuite.        (2023).       Digital        2023:       Indonesia. https://wearesocial.com/asia/blog/2023/01/digital-2023-indonesia/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *