Bermain atau Dimainkan? Judi Online Menggiring Mahasiswa ke Jurang

Oleh : Faqih Ali, Lukmana Syafarudin

Dibalik citra mahasiswa sebagai agen of change dan harapan masa depan bangsa, terdapat kenyataan kelam yang semakin mengkhawatirkan: meningkatnya kasus perjudian online di antara mahasiswa. Dengan hanya menggunakan ponsel pintar dan koneksi internet, permainan daring yang menawarkan keuntungan instan bisa diakses kapan saja. Pada awalnya, beberapa mahasiswa mencoba hanya untuk bersenang-senang atau karena rasa ingin tahu, namun sistem yang sengaja dirancang untuk membuat para pemain ketagihan justru menjerumuskan mereka lebih dalam. Pertanyaan yang sering muncul setelah kasus tersebut: apakah mereka yang sedang bermain, atau justru mereka yang menjadi korban dari mekanisme psikologis yang dirancang untuk mengikat mereka?

Sistem dalam judi online berfungsi dengan memengaruhi pikiran manusia. Setiap kali seseorang menang, otak melepaskan dopamine (sejenis zat yang memberikan perasaan bahagia yang menciptakan keinginan untuk terus bermain) . Seiring waktu, berbagai aktivitas penting seperti belajar, beribadah, dan bergaul dengan teman menjadi terabaikan karena fokus hanya pada layar permainan. Rasa ingin tahu, kegembiraan sementara, dan keinginan untuk  mendapatkan kembali uang kekalahan yang sudah hilang membuat mahasiswa merasa sulit untuk berhenti, bahkan tak terasa saat kerugian semakin banyak. Saat mengalami kerugian yang terus menerus, beban keuangan yang dirasakan oleh mahasiswa sering menyebabkan mereka merasa tertekan dan cemas. Ketakutan akan pengetahuan orang tua, kekhawatiran mengenai masa depan, serta masalah utang seringkali menghantui pikiran mereka. Waktu tidur terganggu, fokus belajar menjadi hilang, dan prestasi akademik pun menurun. Tugas kuliah yang tidak terselesaikan, peningkatan absensi, hingga skripsi yang tertunda menjadi bukti nyata dari pengaruh negatif kecanduan ini.

Dalam situasi yang lebih berat, kerugian yang signifikan bisa menyebabkan depresi dan perasaan putus asa. Mahasiswa yang kehilangan uang tabungan atau terjebak dalam utang sering kali merasa bahwa masa depan mereka telah hancur. Bahkan muncul pemikiran menggunakan jasa pinjol untuk mengejar kekalahan permainan yang dialami sebelumnya. Menggadaikan barang- barang juga menjadi Langkah untuk mencari modal para pelaku tersebut. Perasaan mereka juga bisa sangat berubah-ubah: merasa percaya diri saat berhasil, tetapi mendadak berubah menjadi frustrasi atau sedih ketika gagal. Keadaan ini tidak hanya mengganggu kesehatan mental, tetapi juga dapat merusak hubungan sosial dengan teman dan keluarga. Rasa tidak nyaman dinilai membuat banyak mahasiswa memutuskan untuk mrnjauh dari interaksi sosial. Bukannya mencari bantuan, mereka cenderung berdiam diri dan menyembunyikan masalah yang dihadapi. Keterasingan ini justru dapat memperburuk keadaan mental mahasiswa karena mereka kehilangan dukungan / dorongan  sosial yang sangat krusial di perkuliahan. Lebih jauh lagi, dalam beberapa situasi, beban mental dan keuangan dapat mendorong mahasiswa untuk melakukan pelanggaran hukum seperti penipuan atau pencurian demi memperoleh uang dengan cepat.

Pada akhirnya, judi online bukan hanya soal angka atau kartu yang muncul di layar, tetapi juga merupakan jebakan psikologis yang bisa merusak moral, kesehatan mental, dan masa depan generasi muda. Mahasiswa yang awalnya merasa hanya menikmati permainan, lama-kelamaan justru sadar bahwa merekalah yang sedang dipermainkan oleh sistem yang penuh manipulasi. Oleh karena itu, sangat penting bagi para mahasiswa untuk meningkatkan kesadaran diri, memilih lingkungan yang mendukung, dan berani mencari bantuan jika merasa terjebak dalam lingkaran kecanduan ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *