Oleh : Kadek Sasmitha Deviyanthi, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Ganesha
Saat ini, isu kurikulum pendidikan di Indonesia banyak sekali berkaitan dengan kesiapan guru, ketersediaan sarana prasarana, serta kurikulum yang dinilai terus berubah dan belum sepenuhnya efektif, sehingga berdampak pada kualitas pembelajaran. Perubahan zaman, kemajuan teknologi, serta tuntutan kebutuhan pendidikan membuat kurikulum terus berubah. Di Indonesia sendiri menurut Insani (2019) sejak tahun 1945 hingga saat ini, kurikulum pendidikan Indonesia terus mengalami perkembangan. Penyempurnaan kurikulum dilakukan setidaknya setiap sepuluh tahun. Hal ini dikarenakan dalam kurun waktu tersebut, kemungkinan terjadinya perubahan di berbagai bidang seperti teknologi informasi, komunikasi, dan ilmu pengetahuan sangat besar. Karena perubahan kurikulum sering kali tidak diikuti dengan persiapan yang cukup, kondisi ini semakin terasa, baik bagi guru maupun siswa. Mereka membutuhkan waktu untuk beradaptasi, memahami, dan menyesuaikan metode pembelajaran. Kalau perubahan dilakukan terlalu cepat dan tanpa perencanaan yang cukup, proses pembelajaran menjadi kurang efektif dan tujuan pendidikan menjadi sulit tercapai.
Namun, menurut saya masalah utama bukan karena konsep kurikulumnya, tetapi pada implementasi di lapangan. Banyak guru yang masih susah beradaptasi dengan perubahan kurikulum dan terkadang masih bekerja dalam tekanan administratif, sehingga pembelajaran berorientasi pada pemenuhan dokumen, bukan pada pengalaman belajar, ditambah lagi dengan tuntutan mengikuti pelatihan. Hal ini membuat guru masih belum sepenuhnya memiliki kesiapan yang cukup. Sejalan dengan yang di ungkapkan oleh Amanda et al. (2025), ketidaksiapan guru dalam menerapkan pendekatan pembelajaran yang berbeda dapat membuat
suasana kelas menjadi kurang dinamis dan kurang menarik. Dengan demikian, perubahan kurikulum yang tidak disertai kesiapan dari pihak guru dapat mengurangi keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas proses belajar- mengajar secara keseluruhan.
Kurikulum seharusnya fleksibel, agar memungkinkan guru untuk bisa menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik siswa. Namun, karena kurangnya pelatihan terhadap guru mengakibatkan pemahaman guru terhadap kurikulum dan cara menerapkannya di kelas masih kurang. Di sisi lain, perubahan kurikulum yang terlalu sering membuat guru bingung. Mereka membutuhkan waktu untuk memahami, mencoba, dan mengevaluasi kurikulum yang digunakan di kelas. Ketika kurikulum belum sepenuhnya dikuasai, sudah ada kebijakan baru yang harus dipelajari lagi. Hal ini membuat guru merasa terbebani dan kurang yakin dalam mengajar. Akibatnya, pembelajaran yang seharusnya kreatif dan berpusat pada siswa justru menjadi membosankan.
Selain kesiapan guru yang sudah saya sampaikan sebelumnya, menurut saya peran sekolah juga sangat penting dalam keberhasilan penerapan kurikulum. Sekolah juga bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan belajar yang membantu guru dalam penyediaan fasilitas yang memadai, seperti media pembelajaran, ruang kelas yang nyaman, dan akses teknologi yang sesuai dengan kebutuhan, bukan hanya sekedar menyediakan gedung yang layak saja. Jika ada sarana yang cukup, akan lebih mudah bagi guru untuk menerapkan proses pembelajaran yang aktif dan menarik bagi siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Selain itu, sarana pendidikan seperti buku pelajaran, alat praktik, media pembelajaran,
dan teknologi pendukung sangat dibutuhkan di sekolah. Sekolah tanpa media belajar akan sulit menerapkan kurikulum yang mendorong pembelajaran aktif dan kreatif. Misalnya, penggunaan teknologi atau pembelajaran berbasis proyek membutuhkan dukungan. Seringkali, ini menjadi hambatan, terutama di sekolah yang terletak di wilayah pelosok dengan keterbatasan sarana. Ula dan Rohman (2024) menyatakan bahwa keberadaan sarana dan prasarana yang memadai tidak hanya memberikan kenyamanan bagi peserta didik, tetapi juga dapat meningkatkan motivasi dan semangat belajar mereka. Pemerintah dan sekolah harus bekerja sama untuk memberikan fasilitas yang memadai. Fasilitas sekolah harus disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan kurikulum. Jika ada fasilitas yang cukup dan layak, guru dapat mengatur pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum, dan siswa dapat merasa nyaman dan bermakna saat belajar.
Permasalahan dengan kurikulum pendidikan di Indonesia tidak terletak pada konsep kurikulum itu sendiri, melainkan masalahnya terletak pada bagaimana kurikulum diterapkan di lapangan. Guru masih menghadapi banyak tantangan. Selain itu, dukungan dari pemerintah dan sekolah juga sangat penting untuk keberhasilan kurikulum. Oleh karena itu, guru, sekolah, dan pemerintah harus bekerja sama dengan baik, dengan begitu tujuan kurikulum untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dapat tercapai dengan lebih baik dengan guru yang lebih siap, dukungan fasilitas yang sesuai, dan kebijakan yang realistis dan berkelanjutan.
Referensi:
Amanda, M., Margaret, F. M., Saputra, J., Setiwati, M., & Hayati, N. (2025). DAMPAK PERUBAHAN KURIKULUM TERHADAP GURU DAN PESERTA DIDIK. Jurnal Intelek
Insan Cendikia, 2(6), 10962-10967.
Insani, F. D. 2019. Sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga saat ini. As Salam: Jurnal Studi Hukum Islam & Pendidikan, 8(1), 43-64. Ula, K. I., & Rohman, T. (2024). Peran Manajemen Sarana dan Prasarana dalam
Menciptakan Lingkungan Belajar yang Kondusif di Lembaga Pendidikan Islam. EKOMA: Jurnal Ekonomi, Manajemen, Akuntansi, 3(4), 1628-1637.



