Oleh : Kadek Vina Mellyani, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Ganesha
Perubahan kurikulum di Indonesia selalu membawa dampak besar terhadap praktik pembelajaran di sekolah, khususnya di jenjang sekolah dasar. Kurikulum tidak hanya berfungsi sebagai pedoman materi ajar, tetapi juga menjadi acuan dalam menentukan pendekatan, strategi, dan arah pembelajaran di kelas. Salah satu tuntutan penting dalam Kurikulum Merdeka adalah penerapan pembelajaran berdiferensiasi, yaitu pembelajaran yang memperhatikan perbedaan kemampuan, minat, dan gaya belajar peserta didik. Pada kenyataannya, kelas di sekolah dasar memiliki keragaman yang tinggi, baik dari segi akademik, karakter, maupun latar belakang sosial siswa. Dalam satu kelas, terdapat siswa yang mampu memahami materi dengan cepat, tetapi ada pula siswa yang membutuhkan pendampingan lebih intensif. Kondisi tersebut menuntut guru untuk tidak menggunakan satu cara pembelajaran yang sama bagi seluruh siswa. Menurut Anwar, Munir, Muharram, dan Rozaq (2025), pembelajaran berdiferensiasi merupakan strategi penting dalam pendidikan dasar yang menekankan pemenuhan kebutuhan belajar siswa yang beragam, namun implementasinya masih menghadapi keterbatasan pelatihan guru dan dukungan kebijakan yang memadai. Saya memandang pembelajaran berdiferensiasi bukan hanya sebagai konsep yang tertulis dalam kurikulum, tetapi sebagai tantangan nyata dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Meskipun secara teori pembelajaran ini tampak ideal, pelaksanaannya membutuhkan kesiapan, perencanaan, dan komitmen yang tidak sedikit. Hal inilah yang membuat pembelajaran berdiferensiasi penting untuk dikaji secara lebih mendalam, terutama dalam konteks implementasinya di lapangan.
Menurut saya, pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan pembelajaran yang sangat tepat untuk diterapkan di sekolah dasar. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip bahwa setiap anak memiliki potensi, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda-beda. Dengan memberikan ruang bagi perbedaan tersebut, pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, melainkan pada kebutuhan dan perkembangan siswa. Melalui pembelajaran berdiferensiasi, siswa tidak dipaksa untuk belajar dengan cara yang sama dan dalam tempo yang seragam. Siswa yang memiliki kemampuan lebih dapat terus berkembang, sementara siswa yang membutuhkan bantuan tetap mendapatkan pendampingan yang sesuai. Dengan demikian, proses pembelajaran dapat berjalan secara adil bagi seluruh peserta didik. Namun demikian, meskipun konsep pembelajaran berdiferensiasi tergolong ideal, penerapannya di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. Menurut Pebriyanti (2023), pembelajaran berdiferensiasi berperan dalam memenuhi kebutuhan belajar peserta didik yang beragam, namun penerapannya masih memerlukan inovasi lebih lanjut karena variasi kesiapan guru dan keterbatasan sumber belajar di sekolah dasar. Tidak sedikit guru yang masih merasa kesulitan dalam memahami dan menerapkan pembelajaran ini secara optimal. Berdasarkan temuan dalam studi literatur oleh Negari, Sari, dan Ulia (2025), meskipun pembelajaran berdiferensiasi menunjukkan kontribusi positif terhadap keterlibatan belajar dan capaian akademik siswa, implementasinya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan kompetensi guru, kurangnya sumber daya pendukung, serta resistensi terhadap perubahan metode pembelajaran, sehingga penerapannya belum optimal di banyak sekolah dasar. Kesiapan guru menjadi faktor penting karena pembelajaran berdiferensiasi menuntut guru untuk lebih peka terhadap kebutuhan siswa dan lebih kreatif dalam merancang pembelajaran.
Salah satu tantangan utama dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi adalah pemahaman guru yang masih terbatas. Gusnaida dan Dafit (2025) melaporkan bahwa dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi di kelas V, guru menghadapi tantangan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, sehingga menunjukkan bahwa implementasi belum optimal di lapangan. Tidak semua guru memiliki pemahaman yang mendalam mengenai cara memetakan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa. Akibatnya, pembelajaran berdiferensiasi sering kali hanya diimplementasikan secara dasar, misalnya dengan memberikan tugas yang berbeda tanpa didukung oleh tujuan, strategi, dan asesmen yang jelas. Selain itu, kondisi kelas yang memiliki jumlah siswa relatif banyak juga menjadi kendala tersendiri. Guru dituntut untuk memperhatikan kebutuhan setiap siswa, sementara waktu pembelajaran yang tersedia cukup terbatas. Dalam situasi seperti ini, menerapkan pembelajaran berdiferensiasi secara ideal menjadi tantangan yang cukup besar. Guru harus mampu mengelola kelas, menyusun materi yang bervariasi, serta melakukan penilaian yang sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa. Tuntutan administrasi yang masih cukup tinggi juga turut memengaruhi penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Guru tidak hanya berfokus pada proses pembelajaran, tetapi juga harus menyelesaikan berbagai laporan dan perangkat pembelajaran. Kondisi tersebut sering kali membuat guru kesulitan untuk meluangkan waktu dalam merancang pembelajaran berdiferensiasi secara mendalam dan berkelanjutan. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah ketersediaan sarana dan prasarana sekolah. Sekolah dengan fasilitas yang memadai tentu lebih mudah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, misalnya melalui penggunaan media pembelajaran yang beragam dan menarik. Sebaliknya, sekolah dengan keterbatasan fasilitas akan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya bergantung pada kemampuan guru, tetapi juga pada dukungan sistem pendidikan secara keseluruhan.
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan kebutuhan penting dalam pembelajaran di sekolah dasar, terutama dalam konteks Kurikulum Merdeka. Berdasarkan dokumen resmi Kurikulum Merdeka yang diterbitkan oleh Kemendikbudristek (2024), pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan siswa yang berbeda, tetapi keberhasilan pelaksanaannya sangat bergantung pada kemampuan guru dan dukungan kontekstual di sekolah. Pendekatan ini memberikan peluang bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Namun, dalam praktiknya, penerapan pembelajaran berdiferensiasi masih menghadapi berbagai tantangan, seperti kesiapan guru, kondisi kelas, tuntutan administrasi, dan keterbatasan fasilitas sekolah. Saya memandang pembelajaran berdiferensiasi bukan sebagai beban, melainkan sebagai tantangan yang perlu disikapi secara serius. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, pelatihan yang berkelanjutan bagi guru, serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, pembelajaran berdiferensiasi diharapkan dapat diterapkan secara lebih optimal. Pada akhirnya, pembelajaran yang benar-benar berpihak pada kebutuhan siswa akan memberikan dampak positif bagi kualitas pendidikan di sekolah dasar.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, C., Munir, M. S., Muharram, M. S., & Rozaq, M. M. N. (2025). Implementasi pembelajaran berdiferensiasi di sekolah dasar. Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar Indonesia, 4(4), 213–229.
Pebriyanti, D. (2023). Pengaruh implementasi pembelajaran berdiferensiasi pada pemenuhan kebutuhan belajar peserta didik tingkat sekolah dasar. Jurnal Kridatama Sains dan Teknologi, 5(1), 89–96.
Negari, A. S., Sari, Y., & Ulia, N. (2025). Implementasi pembelajaran berdiferensiasi di sekolah dasar abad ke-21: Studi literatur. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(1), 1–12.
Gusnaida, R., & Dafit, F. (2025). Implementasi pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SD Negeri 42 Pekanbaru. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia, 4(2), 827–837.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2024). Kurikulum Merdeka: Kerangka dasar kurikulum (Edisi Maret 2024). Pusat Kurikulum dan Pembelajaran.



