Literasi Digital dan Kecerdasan Buatan dalam Akuntansi: Tantangan Epistemik dan Etika bagi Generasi Z

Oleh : I Made Sudiartana,SE,.MSi, Mahasiswa Doktoral Ilmu Akuntansi Undiksha, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmas Denpasar

Abstrak

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mentransformasi praktik akuntansi dari sistem berbasis prosedur menjadi sistem berbasis algoritma dan data. Transformasi ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga epistemik dan etis, terutama bagi Generasi Z yang sedang memasuki profesi akuntansi. Artikel ini bertujuan mengkaji literasi digital sebagai kompetensi kritis dalam menghadapi integrasi AI dalam akuntansi, dengan menempatkan Gen Z sebagai aktor kunci dalam perubahan tersebut. Melalui pendekatan konseptual-kritis, tulisan ini berargumen bahwa literasi digital tidak dapat direduksi sebagai keterampilan teknologis semata, melainkan sebagai kapasitas reflektif untuk memahami logika algoritmik, bias data, serta implikasi etika dan akuntabilitas dalam pelaporan dan pengambilan keputusan keuangan. Artikel ini berkontribusi pada pengembangan wacana akuntansi kritis dengan menegaskan pentingnya rekonstruksi pendidikan dan praktik akuntansi di era AI.

Kata kunci: Akuntansi, Literasi Digital, Artificial Intelligence, Generasi Z, Etika Akuntansi

Pendahuluan

Transformasi digital dalam akuntansi telah mempercepat pergeseran dari praktik pencatatan manual menuju sistem otomatis berbasis kecerdasan buatan. AI kini digunakan dalam audit berbasis continuous auditing, deteksi kecurangan, hingga pengambilan keputusan keuangan strategis. Namun, dominasi teknologi ini menghadirkan persoalan mendasar terkait peran manusia dalam proses akuntansi, khususnya terkait penilaian profesional (professional judgment) dan tanggung jawab etis.

Generasi Z, sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi digital, sering diasumsikan memiliki keunggulan adaptif dalam menghadapi perubahan ini. Asumsi tersebut problematis ketika literasi digital disamakan dengan kemampuan operasional teknologi, bukan pemahaman kritis atas sistem yang digunakan. Dalam konteks akuntansi, ketidaksadaran atas bias algoritmik dan ketergantungan pada sistem otomatis berpotensi mereduksi akuntansi menjadi praktik teknokratis yang kehilangan dimensi akuntabilitas sosialnya.

Literasi Digital sebagai Isu Epistemik dalam Akuntansi

Literasi digital dalam akuntansi tidak hanya berkaitan dengan penguasaan perangkat lunak, tetapi menyangkut pemahaman epistemologis tentang bagaimana pengetahuan akuntansi diproduksi melalui data dan algoritma. AI mengonstruksi realitas keuangan berdasarkan model statistik dan asumsi tertentu, yang sering kali tidak transparan (black box).

Dalam kerangka ini, akuntansi berisiko mengalami epistemic displacement, di mana otoritas pengetahuan bergeser dari akuntan ke sistem algoritmik. Generasi Z, jika tidak dibekali literasi digital kritis, berpotensi menjadi operator pasif yang menerima hasil komputasi tanpa kemampuan untuk mempertanyakan validitas dan legitimasi informasi akuntansi. Hal ini bertentangan dengan peran akuntan sebagai penjaga keandalan dan relevansi informasi keuangan.

AI, Etika, dan Akuntabilitas Akuntansi

Integrasi AI dalam akuntansi menimbulkan dilema etis terkait akuntabilitas. Ketika keputusan keuangan didasarkan pada rekomendasi sistem AI, batas tanggung jawab antara manusia dan mesin menjadi kabur. Pertanyaan mendasar muncul: siapakah yang bertanggung jawab atas kesalahan pelaporan atau bias keputusan pengembang sistem, organisasi, atau akuntan?

Dari perspektif akuntansi kritis, AI dapat dipahami sebagai teknologi kekuasaan yang membentuk praktik dan makna akuntabilitas. Tanpa refleksi etis, penggunaan AI justru berpotensi mereproduksi ketimpangan, menyamarkan kepentingan tertentu, dan mengurangi transparansi. Oleh karena itu, literasi digital harus mencakup kemampuan etis untuk menilai implikasi sosial dan moral dari penggunaan teknologi dalam praktik akuntansi.

Implikasi bagi Pendidikan Akuntansi Generasi Z

Pendidikan akuntansi pada level pendidikan tinggi perlu mengalami reorientasi paradigma. Kurikulum yang berfokus pada kepatuhan prosedural tidak lagi memadai. Sebaliknya, pendidikan akuntansi perlu mengintegrasikan:

  1. Pemahaman dasar AI dan analitik data,
  2. Kesadaran terhadap bias dan risiko algoritmik,
  3. Etika digital dan tanggung jawab profesional,
  4. Kemampuan reflektif dan kritis terhadap teknologi.

Bagi Generasi Z, penguatan aspek ini bukan hanya meningkatkan daya saing profesional, tetapi juga menjaga peran akuntansi sebagai praktik sosial yang berorientasi pada kepentingan publik.

Kesimpulan

AI tidak menggantikan peran akuntan, tetapi menantang fondasi epistemik dan etis profesi akuntansi itu sendiri. Literasi digital menjadi prasyarat utama agar Generasi Z dapat menjalankan peran profesional secara kritis dan bertanggung jawab. Tanpa literasi digital yang reflektif, akuntansi berisiko tereduksi menjadi praktik mekanistik yang kehilangan dimensi moral dan sosialnya. Oleh karena itu, rekonstruksi pendidikan dan praktik akuntansi berbasis literasi digital dan etika merupakan agenda strategis bagi keberlanjutan profesi di era kecerdasan

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *