Ketika Alam Menjadi Latar Game Indah,  Tapi Rusak di Dunia Nyata

Oleh: Ivani Karina Putri, Mahasiswa Universitas AKI Semarang

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan alam. Hutan, laut, dan keanekaragaman hayatinya sering menjadi kebanggaan nasional. Namun, ironisnya, keindahan alam tersebut kini lebih sering kita temui dalam dunia digital terutama melalui permainan daring—daripada dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam banyak permainan, alam digambarkan sebagai ruang yang bersih, seimbang, dan terjaga. Pemain diajak untuk merawat lingkungan, melindungi hewan, dan menjaga ekosistem agar tetap berfungsi. Sebaliknya, di dunia nyata, kerusakan lingkungan justru terus berlangsung dan sering kali dianggap sebagai konsekuensi yang tidak terelakkan dari pembangunan.

Fenomena-fenomena alam yang belakangan ini muncul, seperti istilah “cumi darat” yang ramai diperbincangkan, seharusnya tidak dipahami sekadar sebagai keanehan atau hiburan di media sosial. Fenomena tersebut dapat dibaca sebagai simbol ketidakseimbangan ekosistem. Ketika habitat alami rusak, makhluk hidup dipaksa beradaptasi pada kondisi yang tidak semestinya.

Sayangnya, masyarakat cenderung melihat persoalan lingkungan sebagai isu sementara yang hanya mendapat perhatian ketika sedang viral. Setelah perhatian publik mereda, kerusakan terus berlanjut tanpa perubahan yang berarti. Alam diperlakukan sebagai sumber daya yang dapat terus dieksploitasi, bukan sebagai sistem kehidupan yang harus dijaga keberlangsungannya.

Sebagai mahasiswa, yang sering disebut sebagai agen perubahan, sikap kritis terhadap persoalan lingkungan seharusnya tidak berhenti pada diskusi atau unggahan di media sosial. Kepedulian perlu diwujudkan dalam kesadaran sehari-hari, termasuk dalam cara memandang pembangunan, kebijakan publik, dan dampaknya terhadap alam Indonesia.

Permainan digital sebenarnya tidak menjadi masalah. Justru melalui permainan tersebut, kita dapat melihat gambaran dunia yang ideal—di mana alam dijaga karena keberadaannya dianggap penting. Permasalahannya muncul ketika nilai-nilai tersebut tidak diterapkan dalam kehidupan nyata.

Perlu disadari bahwa dunia nyata tidak menyediakan kesempatan untuk mengulang kesalahan. Kerusakan hutan, pencemaran laut, dan punahnya spesies merupakan proses yang sulit, bahkan mustahil, untuk dipulihkan sepenuhnya.

Oleh karena itu, refleksi terhadap cara kita memperlakukan alam menjadi hal yang mendesak. Jika fenomena-fenomena yang tidak wajar terus dianggap biasa, maka krisis lingkungan akan semakin dalam. Pada akhirnya, alam bukan sekadar latar, baik dalam permainan maupun kehidupan, melainkan ruang hidup yang menentukan masa depan bersama.

Menolak polusi bukan berarti bersikap berlebihan. Kepedulian terhadap lingkungan justru menunjukkan kesadaran akan kesehatan dan keselamatan bersama. Sayangnya, masih ada anggapan bahwa keluhan terhadap polusi merupakan bentuk sikap manja atau alay. Pandangan seperti ini jelas keliru.

Di media sosial, tidak jarang muncul komentar yang meremehkan keresahan masyarakat terhadap polusi. Ungkapan seperti “kalau tidak mau terkena polusi, tinggal di rumah saja” seolah menjadi jawaban instan atas persoalan yang sebenarnya kompleks. Padahal, polusi bukan masalah pribadi, melainkan masalah publik. Semua orang terdampak, mau di rumah atau di luar rumah sekalipun.

Kondisi ini semakin terasa di lingkungan perkampungan. Praktik membakar sampah masih sering dilakukan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Asap tebal dari pembakaran tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga membahayakan kesehatan. Bagi penderita asma, asap dapat memicu serangan serius. Bagi anak-anak dan lansia, risikonya bahkan lebih besar. Ini bukan sekadar keluhan, ini realita.

Ironisnya, ketika ada warga yang menyampaikan keberatan, respons yang diterima justru sering kali tidak ramah. Kepedulian dianggap sebagai sikap berlebihan, bahkan dipandang ribet. Padahal, hidup bermasyarakat berarti saling menjaga, bukan saling mengabaikan.

Fenomena yang ramai dibicarakan, seperti isu cumi-cumi darat di beberapa wilayah Jawa, seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Terlepas dari kebenaran faktualnya, isu tersebut mencerminkan kegelisahan masyarakat terhadap kondisi lingkungan yang semakin tidak menentu. Namun, alih-alih membahas akar masalah, perhatian publik justru teralihkan pada perdebatan yang tidak substansial.

Dalam banyak permainan digital, kerusakan lingkungan selalu membawa konsekuensi. Pemain dipaksa bertanggung jawab. Sebaliknya, di dunia nyata, perilaku yang merusak lingkungan sering kali dinormalisasi. Yang peduli dianggap baper, sementara yang abai justru merasa paling realistis.

Padahal, sikap realistis seharusnya berarti memahami bahwa lingkungan yang rusak akan berdampak langsung pada kualitas hidup manusia. Menuntut udara bersih dan lingkungan sehat bukanlah sikap berlebihan, melainkan hak dasar.

Jika gangguan lingkungan semakin sering terjadi dan mulai terasa mengancam, maka masalahnya bukan pada sensitivitas masyarakat, melainkan pada kerusakan yang sudah terlalu lama diabaikan. Alam tidak sedang mencari perhatian. Ia hanya menunjukkan batas kesabarannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *