Oleh : Kadek Chintya, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Ganesha
Di era saat ini, hampir semua siswa tidak pernah lepas dari penggunaan gadget. Sejak bangun tidur hingga menjelang tidur, aktifitas menggulir layar untuk membuka tiktok atau bermain game itu sudah menjadi kebiasaan yang umum. Di sekolah pun, gadget masih sering ikut serta masuk ke ruang kelas, entah untuk belajar atau sekedar buat tiktok/hiburan lainnya. Jadi kebiasaan ini secara perlahan dapat berpotensi menggeser budaya membaca dan menulis bagi siswa. Padahal, literasi baca-tulis adalah dasar utama dalam kurikulum Indonesia (Kemendikbudristek, 2022).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gadget memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat baca siswa SD maupun SMP. Seperti yang dikatakan oleh (Hayati, 2025) dalam penelitiannya di SMP Negeri 3 Palu yang menemukan bahwa gadget ikut memengaruhi minat baca siswa. Namun pengaruh itu hanya sekitar 15,9% karena minat baca siswa juga banyak ditentukan oleh pengawasaan penggunaan gadget dan kondisi pembelajaran di sekolah. Sedangkan menurut (Saputra & Kasmawati, 2025) dalam penelitiannya menemukan bahwa intensitas penggunaan gadget yang tinggi, apalagi tanpa pengawasan, berkaitan dengan menurunnya kemampuan menulis siswa di SD Negeri 34 Kendari. Dua temuan ini memberikan gambaran bahwa gadget memiliki dua sisi, yang dimana salah satu bisa membantu tapi yang satunya juga bisa menghambat kemampuan literasi kalau penggunaannya tidak diarahkan dengan benar/baik.
Terlepas dari manfaat gadget, literasi bertumpu pada kebiasaan membaca teks panjang, pemahaman mendalam, dan kemampuan menulis kritis. Banyak pakar pendidikan masih menekankan bahwa membaca buku fiksi terutama bacaan panjang atau teks akademis dapat berdampak kuat terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemahaman yang mendalam bagi siswa (Suryono, 2023). Data internasional juga menunjukkan tren turunnya kemampuan membaca siswa dalam teks panjang, meskipun begitu sebagian pendukung teknologi mengakui penggunaan gadget (digital) dapatmempermudah akses teks. Di Indonesia sendiri,
kurikulum nasional sudah memasukkan indikator literasi sebagai tujuan pembelajaran utama, tetapi di tingkat praktis banyak siswa lebih memilih menggunakan akses digital yang cepat seperti artikel singkat, media sosial, atau konten video dibandingkan dengan membaca buku pelajaran atau buku literasi panjang.
Kurikulum merdeka dan kebijakan terbaru pendidikan Indonesia menempatkan literasi sebagai kompetensi inti, yang bukan sekedar kompetensi tambahan. Artinya, kemampuan siswa dalam membaca dan menulis bukan hanya soal, mengeja atau membuat kalimat, tetapi soal memahami isi dan konteks teks secara kritis dan mengaplikasikannya. Namun realitasnya, adaptasi kurikulum ini belum sepenuhnya didukung dengan strategi pengelolaan gadget di sekolah-sekolah tertentu. Banyak guru merasa alat digital bukan sekedar alat belajar, tetapi menjadi gangguan besar, baik di dalam kelas maupun di luar jam pelajaran. Jika gadget hanya dibiarkan tanpa arahan yang jelas, siswa cenderung terpapar kontennegatif di media sosial, yang justru memperpendek rentang perhatian mereka terhadap masalah yang juga terlihat konteks di internasional, di mana perhatian siswa pada teks panjang akan menurun.
Solusi yang dapat di lakukan untuk mencegah penggunaan gadget adalah integrasi teknoligi dengan literasi digital. Seperti guru bisa memakai gadget untuk mengakses artikel ilmiah, e-book, jurnal dan aplikasi pembelajaran lainnya yang mendukung literasi bawaan, bukan hanya media sosial. Pendampingan guru dan orang tua itu penting dalam penggunaan gadget karena bisa berdampak pada minat baca siswa. Literasi yang holistik seperti literasi tidak hanya berupa membaca teks, tetapi juga mengkritisi, menganalisis, dan menulis reflektif. Buku fisik masih relevan untuk itu, sementara gadget dapat berperan sebagai alat pelengkap dalam proses pembelajaran.
Tantangan terbesar dalam kurikulum Indonesia bukan menolak teknologi, tetapi menemukan keseimbangan yang tepat antara penggunaan gadget dan penguatan kebiasaan membaca buku. Ketika gadget dipakai sebagai alat bantu yang terarah, literasi siswa bisa meningkat, namun ketika gadget menjadi distrasi tanpa arahan, kemampuan membaca dan menulis mendalam justru bisa melemah. Oleh karena itu, kurikulum dan praktik pembelajaran harus berkembang bersama perkembangan teknologi, dengan tetap mempertahankan niai- nilai fundamental literasi. Namun jika gadget terusmendominasi tanpa keseimbangan dengan buku, maka yang hilang bukan hanya minat baca, tetapi juga kedalaman berpikir siswa. Tantangan literasi ini menuntut kesadaran bersama bahwa teknologi dan buku harus berjalan beriringan, bukan saling menggantikan.
Refrensi
Hayati. (2025). Pengaruh penggunaan gadget terhadap minat baca siswa SMP Negeri 3 Palu.
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 10(1), 45–53.
Kemendikbudristek. (2022). Panduan penguatan literasi dalam Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Saputra, A., & Kasmawati. (2025). Hubungan intensitas penggunaan gadget dengan kemampuan menulis naratif siswa sekolah dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 6(2), 112–121.
Suyono. (2023). Pembelajaran literasi dalam pendidikan dasar. Malang: Universitas Negeri Malang Press.



