Oleh : Tanti Wahyu Lestari, Telaah Kurikulum, Universitas Pendidikan Ganesha
Kurikulum Merdeka mulai diterapkan di sekolah mengikuti arahan dari kebijakan pendidikan yang baru setelah pergantian Menteri, kurikulum ini sudah mulai diterapkan pada tahun 2022/2023 dalam proses pembelajaran di sekolah. Kurikulum ini dibuat untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Namun, pada kenyataannya di lapangan, masih ada berbagai kendala yang membuat tujuan dari Kurikulum Merdeka ini belum sepenuhnya tercapai. Kondisi yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak guru yang mengalami kesulitan dalam memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran secara efektif, Salah satunya karena keterbatasan fasilitas dan dukungan sekolah dalam penggunaan teknologi, Akibatnya proses pembelajaran sering terasa kurang menarik bagi siswa. Hal ini terjadi karena kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi masih terbatas, sehingga pembelajaran belum berjalan sesuai dengan tujuan Kurikulum Merdeka yang telah dibuat oleh pemerintah (Jayanta et al., 2025).
Selain itu, kondisi di sekolah juga menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam menggunakan teknologi pembelajaran masih berbeda-beda. sebagian guru yang belum memiliki kemampuan yang cukup dalam mengelola kelas secara efektif. Cara mengelola kelas yang selama ini dilakukan masih belum sepenuhnya menyesuaikan dengan tujuan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran aktif dan melibatkan siswa. Akibatnya, ada beberapa guru yang masih mengalami kesulitan dalam mengelola pembelajaran di kelas. Di sekolah juga terlihat bahwa guru belum sepenuhnya bebas dalam melakukan penilaian terhadap siswa. Pada bagian asesmen, masih banyak guru yang belum memiliki data yang menunjukkan bahwa nilai yang diberikan sesuai dengan kondisi siswa di sekolah. Selain itu banyaknya tugas administrasi membuat guru lebih fokus untuk menyelesaikan dokumen dibandingkan dengan pengembangan pembelajaran dan penilaian yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Selain itu, kemampuan guru sekolah dasar dalam memanfaatkan teknologi, seperti AI, masih terbatas. Padahal, teknologi tersebut sebenarnya dapat membantu guru dalam membuat pembelajaran yang lebih menarik dan efektif.
Dari hasil penelitian (Suastra et al., 2024), Jika melihat situasi di lapangan, sebenarnya guru dan kepala sekolah telah difasilitasi peningkatan pemahamannya terkait kurikulum
nasional/kurikulum merdeka melalui platform merdeka mengajar. Namun, pola daring yang terbatas dan tanpa pendampingan optimal tersebut kemungkinan menjadi salah satu penyebab pemahaman dan keterampilan guru tentang implementasi kurikulum
merdeka yang belum optimal. Oleh karena itu, guru dan kepala sekolah memerlukan bantuan yang relevan dalam implementasi kurikulum merdeka agar pemahaman dan keterampilannya menjadi lebih optimal.
Menurut saya, permasalahan ini perlu ditangani dengan adanya pelatihan guru yang lebih merata dan berkelanjutan. Pelatihan ini perlu dilakukan selama beberapa hari dan harus didampingi langsung, seperti yang dilakukan oleh dosen pascasarjana Undiksha yang melakukan pendampingan di beberapa sekolah, untuk membuat guru lebih memahami Kurikulum Merdeka dan juga cara memanfaatkan teknologi.
Melalui pelatihan yang lebih merata dan pendampingan yang berkelanjutan, guru diharapkan tidak hanya memahami tujuan Kurikulum Merdeka, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata dalam proses pembelajaran di kelas. Dengan demikian, kurikulum merdeka benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh guru dan siswa di sekolah.
REFERENSI
Jayanta, I. N. L., Sudarma, I. K., & Wibawa, I. M. C. (2025). Penerapan Lesson Study for
Learning Community untuk Meningkatkan Kualitas Implementasi Kurikulum
Merdeka. International Journal of Community Service Learning, 9(1).
Suastra, I. W., Sanjaya, D. B., Sarini, P., & Supriadi, I. G. I. (2024, December). PELATIHAN
DAN PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA UNTUK
MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN SD DI BANJAR JAWA BULELENG.
In Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat (Vol. 9, No. 1, pp. 992-1000)


