Di Balik Gaya Hidup Yang Mandiri: Gen Z Cenderung Ingin Menjadi Independent Women

Oleh: Naomi Tamariska, Prodi Sastra Inggris, Universitas Aki

Dosen Pengampu: Dr. Ahmad Tauchid, S.S., M.Pd.

Beberapa tahun terakhir, muncul keinginan yang kuat untuk menjadi independent women, sebuah fenomena yang menarik di kalangan perempuan Gen Z. Fenomena global yang semakin diakui, terutama di kalangan perempuan muda yang ingin mengukir jalannya sendiri tanpa terlalu terikat pada norma-norma tradisional. Pilihan hidup ini tidak hanya mencerminkan keberanian perempuan dalam menentukan jalan hidupnya tetapi juga mencerminkan perubahan pola pikir masyarakat terhadap peran perempuan. Bagaimana nilai-nilai baru ini membentuk cara pandang mereka tentang masa depan serta apa yang mendorong tumbuhnya pemikiran tersebut.

Salah satu alasan utama atas berkembangnya fenomena ini adalah karena perempuan Gen Z dapat mengontrol hidup mereka sendiri berkat kemandirian. Tanpa adanya tekanan tradisional, mereka ingin bebas di dalam menentukan pilihan karier, pendidikan, dan hubungan. Karena mereka menjadi independent women, dengan begitu mereka dapat membangun rasa percaya diri, memperkuat kemampuan problem solving, dan mengembangkan potensi secara maksimal sebuah modal penting untuk bersaing dalam dunia modern yang semakin kompetitif.

Dalam data yang dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat perbedaan yang cukup terlihat antara rerata gaji pekerja pria dan wanita. Secara umum perempuan di Indonesia masih menghadapi kesenjangan gaji sebesar 22% dibandingkan laki-laki dalam sektor yang sama (Rainer, 2024). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun perempuan memiliki keterampilan dan pengalaman yang setara, mereka sering kali dinilai berdasarkan standar yang berbeda.  Pernikahan bagi perempuan mandiri sering ditunda ataupun ditolak sudah merupakan hal biasa, tetapi hal ini tetap akan menimbulkan stigma sosial. Stigma ini akan menyebabkan perempuan tersebut akan mendapatkan komentar bahwa ia ‘terlalu pilih-pilih’, atau mengatakan ‘takut berkomitmen’. Stigma tersebut menunjukkan, pikiran masyarakat masih terikat pada norma tradisional. Meski demikian, perempuan sudah menunjukkan bahwa masih banyak pilihan hidup dan dengan pilihan hidup yang berbeda, perempuan tersebut bisa mendapatkan kebahagiaan dan sukses.

Menurut Masrun, kemandirian dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mampu menyelesaikan masalah sendiri (Tagela, 2021:2). Kemampuan ini tidak hanya mencakup pengelolaan keuangan pribadi, tetapi juga kemandirian dalam membuat keputusan hidup, baik dalam aspek profesional maupun pribadi. Fenomena perempuan mandiri di kalangan Gen Z juga memberikan pengaruh positif bagi masyarakat. Namun, menjadi perempuan mandiri tidak berarti tanpa tantangan. Dan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari tekanan sosial hingga stigma yang masih melekat dalam masyarakat. Sebagai contoh, kemandirian ekonomi perempuan meningkatkan kualitas hidup keluarga dan mengurangi kesenjangan gender. Kepercayaan diri generasi perempuan juga membuka peluang bagi terbentuknya komunitas-komunitas support system yang saling menguatkan. Sebagai hasilnya, tren ini menciptakan masyarakat yang lebih adil dan modern serta lebih mengedepankan kesetaraan.

Obsesif menjadi wanita independen kerap menyisakan beban baru dalam hidup. Gen Z sering melihat dan menginternalisasi pesan bahwa harus tampil kuat di muka umum. Banyak di antara mereka yang mengatainya dengan kemandirian dan merasa bahwa meminta bantuan dari orang lain adalah tanda kelemahan. Melakukan segala sesuatu sendiri dengan mengabaikan dukungan dan interaksi sosial dari orang lain justru psikologis menambah kesepian hidup manusia.[M5] 

Satu hal yang perlu disadari adalah konsep wanita mandiri bukan tanpa pengaruh. Budaya barat dan media global merupakan bagian dari sosialisasinya. Ingatlah bahwa di negeri tercinta ini, nilai-nilai tersebut tidak bisa diadaptasi dengan sembarangan. Nyatanya, masih kuat nilai gotong royong dan kekeluargaan di sini. Tanpa adaptasi, nilai ini hanya menambah bias moral yang menyatakan bahwa menjadi tradisional atau hidup dengan pilihan yang umum bagi orang perempuan adalah tidak progresif. Padahal, perempuan memiliki hak yang setara dalam mengadopsi berbagai visi hidup.

Kondisi yang lebih ideal bukanlah ketergantungan ekstrem maupun kemandirian ekstrem; ini adalah keseimbangan dari keduanya. Wanita Gen Z diberdayakan untuk membuat keputusan sendiri dan tetap mandiri, sambil juga memberikan ruang untuk kolaborasi dan dukungan dari keluarga, teman, atau pasangan. Dalam konteks budaya Indonesia, kolaborasi dengan keluarga, teman, mentor, dan pasangan dapat menjadi sumber kekuatan emosional dan profesional. Pendidikan juga memiliki peran penting: sekolah dan kampus dapat menanamkan nilai kemandirian yang tidak terlepas dari empati, etika, dan kemampuan berkolaborasi. Dengan begitu, kemandirian lebih dipahami sebagai kapasitas untuk membuat keputusan matang, bukan sebagai tekanan sosial baru yang membebani perempuan. Kemandirian sejati datang dari mengetahui batasan diri dan tahu kapan harus bekerja sama dengan orang lain.

Untuk mewujudkan kemandirian yang lebih sehat dan realistis, diperlukan pendekatan yang seimbang. Penting juga untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, kebijaksanaan, dan saling ketergantungan sambil menyeimbangkan dorongan untuk menjadi wanita yang mandiri. Kemandirian sendiri tidak akan membangun kehidupan, dan dengan elemen lainnya, wanita Gen Z akan menjadi pelaku independen yang kuat, secara mental, profesional, dan sosial. Oleh karena itu, istilah “wanita mandiri” tidak boleh disamakan dengan kesepian atau kesendirian, tetapi merupakan pilihan yang disengaja dan seimbang dari jalannya dalam hidup.

Fenomena perempuan Gen Z yang ingin menjadi independent women merupakan tanda perubahan zaman yang positif dan sebetulnya adalah dampak dari peradaban yang lebih maju. Namun, identitas ini tidak boleh dipandang sebagai standar tunggal atau tuntutan sosial. Setiap perempuan memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya, apakah mandiri, kolaboratif, tradisional, atau kombinasi dari semuanya. Dengan menghargai keberagaman pilihan hidup perempuan, kita dapat mendukung generasi baru yang lebih kuat, lebih bijaksana, lebih terdidik, lebih kuat, dan lebih manusiawi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *