Oleh: Amalia Shofiyatun Rohmah
Perkembangan teknologi pada saat ini menciptakan beberapa hal baru dalam media digital yang dimana dapat melahirkan banyak inovasi untuk memudahkan komunikasi manusia lebih efektif. Ditengah berkembangnya teknologi, pertanyaan etika muncul sebagai pemandu esensial dalam merancang, mengimplementasikan, dan menggunakan inovasi-inovasi teknologi. Di era digital saat ini, informasi tersebar dengan cepat dan mudah diakses oleh siapa saja. Saat menyebarkan informasi yang begitu cepat kita dapat mengetahui platform berita daring, pertanyaan mengenai sumber informasi, dan potensi penyebaran berita palsu (hoax) menjadi semakin penting. Etika penyebaran informasi ini melibatkan tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa informasi yang diakses dan dibagikan adalah informasi yang akurat serta tidak merugikan individu tau kelompok tertentu.
Menurut data Kementrian Komunikasi dan Digital pada tahun 2024 berhasil mengidentifikasi serta mengklarifikasi sebanyak 1.923 konten hoaxs, berita bohong dan informasi palsu. Penyebaran berita hoaxs terjadi di media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Angka ini jelas bukan angkar kecil, jadi hampir semua orang yang aktif di dunia maya berisiko terpapar informasi bohong. Salah satu penyebab cepatnya penyebaran hoaks adalah rendahanya literasi digital di kalangan masyarakat. Banyak orang yang tidak memiliki kebiasaan untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, terutama jika informasi tersebut sejalan dengan emosi atau keyakinan pribadi mereka.
Berita hoaks dapat disajikan dalam bentuk yang provokatif dan sensional, yang secara psikologis menarik perhatian pengguna internet. Gambar yang dimanipulasi serta narasi yang dibuat dengan kemarahan dan rasa takut dapat menjadi bahan dalam menyebarkan berita hoaks, berita hoaks bukan hanya menyesatkan, tetapi bisa membahayakan Dalam hal ini, etika informasi dapat memainkan peran pentingnya, ini bukan hanya dalam memilih untuk tidak menyebarkan tetapi juga dalam mendorong orang lain untuk bersikap kritis dan tanggung jawab. Etika informasi digital harus ditanamkan ke anak-anak sekolah dan juga orang dewasa. Etika informasi ini tidak hanya menyangkut pada hal-hal teknis seperti dengan mencantumkan sumber atau menghormati hak cipta, tetapi juga mencakup nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati.
Pada lingkungan di era digital, setiap individu memegang peran sebagai penyebar informasi. dalam hal ini, setiap ingin menyebarkan informasi harus berfikir terlebih dahulu terkait dampaknya. Etika informasi juga menuntut kita untuk memahami batas antara hak atas kebebasan pendapat dan juga kewajiban untuk tidak menyebarkan kebohongan atau ujaran kebencian. Etika Penggunaan informasi juga dapat memberikan pemahaman bagaimana caranya membedakan sumber terpercaya atau tidak, tahu cara memeriksa fakta, serta punya kesadaran bahwa jika satu klik “bagikan” bisa menjadi dampak besar.
Meningkatnya kasus berita hoaks di era digital merupakan salah satu peringatan keras bahwa teknologi tanpa etika dapat menjadi bumerang dikalangan masyarakat. Pendidikan literasi digital saja belum cukup jika tidak dengan memahami tentang etika penggunaan informasi. Hoaks bukan lagi sekedar kaabr bohong, ia bisa memecah belah, menyesatkan, dan bahkan membahayakan. Etika digital bukan pilihan, tapi keharusan, Maka jadilah pengguna informasi yang etis, karena di tengah dunia yang serba cepat ini etika adalah rem yang bisa menyelamatkan kita dari berita hoaks.



