Oleh : Nabila Fasa

Buku“The Art Of Stoicism” karya dari Adora Kinara adalah filosofi yang sangat relevan dan dapat menjadi alat mental yang kuat bagi profesional di bidang farmasi seperi apoteker,asisten apoteker. Bagi mahasiswa buku ini juga sangat relevan untuk yang sedang berjuang dengan tugas, dateline, ekspetasi orang tua, sampai dengan tekanan sosial. Intinya ajaran stoa adalah konsep kebahagiaan sejati. Bukan sekedar bersenang – senang sesaat, tetapi hidup yang tenang, tetap waras dan tetap menjadi diri yang baik.
Menghadapi hasil yang tidak terkendali (Kondisi Pasien), seorang profesional farmasi memberikan pengobatan yang terbaik, tetapi hasil akhirnya seringkali bergantung pada banyak faktor seperti (respons tubuh pasien, kepatuhan, perkembangan penyakit) yang berada di luar kendali mereka. Secara mental, misalnya, menyadari bahwa pengobatan mungkin tidak selalu berhasil. Jika dilingkungan mahasiswa kita akan menganggap bahwa kebahagian itu ketika kita mendapatkan nilai A, lulus cepat, masuk perusahaan idaman. Kebahagiaan dibidang farmasi yaitu dapat membedakan antara hal-hal yang dapat kita kendali dan yang tidak dapat kita kendali, dan kemudian fokus pada yang dapat kita kendali (yaitu penilaian, keputusan, dan tindakan kita).
Menjaga disiplin dan fokus saat bekerja. Secara keseluruhan, mengadopsi seni Stoikisme memungkinkan profesional farmasi untuk menjalani karier yang seimbang dan bermakna, dengan memelihara ketenangan batin (ataraxia) di tengah kekacauan dan tuntutan pekerjaan. Mengingatkan bahwa kebahagiaan dan kesuksesan mahasiswa nggak ditentukan oleh seberapa banyak pencapaian yang didapat, tapi bagaimana cara kita menghadapi setiap tantangan. Selama kita berusaha dengan akal sehat, tetap jujur, tetap berani, dan fokus pada apa yang bisa kita kontrol, kita sudah berjalan di jalur kebahagiaan versi Stoa.
Buat Stoa, sukses itu bukan cuma soal gelar atau IPK, tapi soal karakter dan cara kita bertindak. Ada empat kebajikan utama yang relate banget buat kehidupan mahasiswa, seperti akal: mau berpikir kritis, tidak Cuma ikut- ikutan, pengendalian diri: tidak bermalas-malasan seperti hanya rebahan saja, keberanian: merani bertanya, memberikan pendapat, dan berani mengambil resiko. Di bidang farmasi, kebijaksanaan: menggunakan pengetahuan klinis untuk membuat keputusan terbaik, keadilan: memberikan pelayanan yang sama kepada semua pasien, terlepas dari latar belakang mereka, keberanian: bertindak berdasarkan etika, bahkan ketika sulit (misalnya, melaporkan praktik yang tidak etis atau menolak memberikan obat yang tidak sesuai indikasi).
Bagi para akademisi atau pembaca yang mencari analisis filsafat Stoik yang sangat mendalam dan kritis, buku ini mungkin terasa terlalu umum dan lebih berfungsi sebagai pengantar daripada studi komprehensif. Bagi mereka yang mencari analisis Stoisisme yang lebih kritis dan mendalam, buku ini mungkin terasa terlalu mendasar dan lebih cocok sebagai pengantar. Beberapa ulasan menyarankan agar buku ini diperkaya dengan lebih banyak contoh kasus konkret atau skenario kehidupan nyata (misalnya, cara menghadapi kegagalan bisnis atau perselisihan keluarga) untuk memperkuat aplikasinya.
Menggunakan pikiran terbuka untuk menghadapi kritik (pasien komplain atau rekan kerja yang menegur) dan menganggapnya sebagai peluang untuk berkembang (refleksi diri rutin). Apoteker Stoik akan merespons dengan kebajikan (kesabaran, keadilan, kebijaksanaan) alih-alih dengan emosi, memisahkan fakta objektif (kejadian) dari opini/penilaian pribadi yang memicu emosi negatif. Banyak pembaca merasa terbantu karena buku ini berfokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan: pikiran, reaksi, dan tindakan kita sendiri. Pendekatan ini dianggap efektif dalam mengurangi kecemasan.
Bagi mereka yang mencari analisis Stoisisme yang lebih kritis dan mendalam, buku ini mungkin terasa terlalu mendasar dan lebih cocok sebagai pengantar. Ketika fokus kita pindah ke hal-hal yang bisa kita atur sendiri, kita jadi lebih tenang. Kebahagiaan nggak datang dari “berhasil atau gagal”, tapi dari perasaan bahwa kita sudah melakukan yang terbaik.
Seni Stoikisme menurut mahasiswa” adalah menjadi tahan banting, rasional, dan mandiri secara emosional di tengah badai tuntutan akademik dan sosial. Filosofi Stoicism (Ekspektasi dan Kebahagiaan) untuk memahami lebih lanjut bagaimana ekspektasi memengaruhi emosi, yang merupakan inti dari ajaran Stoikisme. Kalau fokus pada usaha dan berpegang pada prinsip kebajikan ini, mahasiswa nggak cuma dapat hasil baik di akademik, tapi juga tumbuh jadi pribadi yang lebih kuat dan tahan banting.
Buku ini mengingatkan kita bahwa ketenangan datang dari pemikiran yang disiplin dan penerimaan diri. Pada akhirnya, pembaca akan dibawa kembali ke inti ajaran Stoa: kebahagiaan sejati datang dari kebajikan dan bagaimana kita menghargai segala sesuatu, bukan dari keadaan eksternal. kebahagiaan dan kesuksesan mahasiswa nggak ditentukan oleh seberapa banyak pencapaian yang didapat, tapi bagaimana cara kita menghadapi setiap tantangan. Selama kita berusaha dengan akal sehat, tetap jujur, tetap berani, dan fokus pada apa yang bisa kita kontrol, kita sudah berjalan di jalur kebahagiaan versi Stoa.
Belajar untuk mengendalikan emosi saat menghadapi nilai buruk atau kegagalan ujian, daripada membiarkan emosi tersebut menghancurkan motivasi. Penerimaan Terhadap Proses dan menerima bahwa proses belajar dan beradaptasi dengan lingkungan baru penuh dengan rintangan, dan fokus pada usaha terbaik yang dapat dilakukan saat ini, bukan khawatir berlebihan tentang hasil akhir. Menerapkan prinsip Stoikisme untuk membedakan antara kesalahan sistem atau kekurangan yang di luar kendali pribadi, dan tindakan profesional yang harus dilakukan dengan hati-hati dan bijaksana.



