Oleh : Veny Aulia|Universitas Tidar
Pergantian kepemimpinan merupakan momentum awal rakyat Indonesia memilki harapan baru yang lebih baik bagi bangsa Indonesia. Hal tersebut dikarenakan setiap Presiden terpilih pasti memiliki visi dan misi yang berbeda. Pada beberapa kesempatan Presiden Prabowo menyampaikan mengenai pembangunan ekonomi berkelanjutan yang menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8%. Target ini merupakan target ambisius akan tetapi tidak mustahil untuk terjadi karena Indonesia pernah mengalami sebelumnya sebanyak 5 kali pada tahun 1968, 1973, 1977, 1980, dan 1995. Maka dari itu rakyat Indonesia berharap pemerintah dapat mewujudkan pembangunan ekonomi berkelanjutan tersebut demi kesejahteraan hidup masyarakat.
Pembangunan ekonomi berkelanjutan ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam (SDA), mengurangi ketergantungan impor dan membuka lapangan pekerjaan dalam negeri. Alasan Pembangunan ekonomi ini ditujukan menambah nilai sumber daya alam (SDA) karena bahan mentah yang diekspor ke luar negeri dihargai sangat murah, sedangkan bahan jadi yang kita impor dari luar negeri harganya mahal dan tidak stabil. Apabila kita mampu mengolah bahan mentah menjadi barang jadi dapat dipastikan mendapat harga yang lebih murah dan mudah untuk mengontrol kestabilan harga. Selain itu ketergantungan impor dapat diatasi apabila kita dapat mengolah sendiri bahan mentah menjadi bahan jadi .Upaya tersebut dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru karena bahan-bahan tersebut diolah di Indonesia yang tentunya membutuhkan banyak tenaga kerja. Langkah tersebut juga dapat mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia yang masih tinggi.
Fokus utama pertumbuhan ekonomi adalah program hilirisasi yang digadang-gadang sebagai kunci utama mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Terdapat 28 komoditas hilirisasi di Indonesia dengan beberapa komoditas unggulan yaitu nikel, timah, besi baja, timah, emas, gas bumi, minyak bumi dll. Hilirisasi nikel merupakan hal yang paling ditegaskan oleh Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka karena sangat potensial untuk dikembangkan. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil nikel terbesar didunia yang dapat menghasilkan hingga 1,6 juta metrik ton. Saat ini kebutuhan nikel melonjak pesat dikarenakan melonjaknya industry kendaraan listrik dimana salah satu kunci komponen baterai adalah nikel. Nikel menjadi komoditas yang strategis sehingga apabila pemerintah membangun industri nikel dalam negeri, Indonesia dapat menjadi pemain global dalam pasar nikel.
Selain hilirisasi pertambangan Prabowo juga memperluas visi misi hilirisasi yaitu hilirisasi rumput laut dan perikanan. Perairan Indonesia mendominasi sekitar 70% dari luas wilayah Indonesia dengan 12.000.000 hektare dialokasikan untuk budidaya. Terdapat target sebanyak 24,85 juta ton untuk budidaya perikanan dan 12,3 juta ton untuk produksi rumput laut. Saat ini budidaya rumput laut masih sangat kecil yaitu 0,8% atau sekitar 102.000 hektare. Lebih dari 60% ekspor rumput laut masih dalam kondisi mentah atau kering. Budidaya rumput laut sangat potensial untuk dikembangkan karena di Indonesia sedikitnya terdapat 555 jenis rumput laut. Salah satu jenis rumput laut bernilai ekonomi tinggi yaitu Euchema cottoni dan Indonesia merupakan salah satu pemasok utama dalam pasar global. Hilrisasi perikanan juga perlu dikembangkan untuk mendorong terlaksananya program makan bergizi gratis.
Program hilirisasi merupakan salah satu kunci untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Diharapkan pertumbuhan ekonomi tersebut dapat terdistribusikan secara merata kepada seluruh masyarakat Indonesia. Maka dari itu pemerintah seharusnya membuat kebijakan yang menguntungkan negara tetapi juga menguntungkan daerah penghasil sumber daya. Secara keselruhan masyarakat berharap program hilirisasi tersebut dapat menciptakan perekonomian yang lebih mandiri dan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia juga mencapai pertumbuhan ekonomi msebesar 8%.



