Oleh : M Yassin Ghassan Kamaluddin, Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, Jurusan Ilmu komunikasi
Di balik tiap adegan video, ada mata yang jeli, jiwa yang peka, serta tangan yang piawai merangkai narasi. Bagi Kimi, videografi bukan sekadar merekam—ini adalah bahasa tanpa kata, gerbang pembuka makna, dan pantulan emosi manusia. Dari kamera keluarga hingga sorotan kompetisi, kisah Kimi membuktikan bahwa hobi yang digeluti sepenuh hati bisa menjadi profesi yang membanggakan.
Awal Mula: Terinspirasi dari Keluarga
Tumbuh dalam keluarga yang menghargai seni visual, Kimi telah akrab dengan kamera sejak usia dini. Foto-foto keluarga, lanskap alam, dan momen keseharian menjadi objek eksplorasi pertamanya. Namun, seiring waktu, ia menyadari bahwa satu foto tak cukup untuk menangkap keseluruhan kisah kehidupan. Ia mulai tertarik pada video—medium yang mampu menghidupkan cerita, menyatu dengan musik, dan menciptakan emosi baru. Itulah awal mula ketertarikannya pada dunia videografi.
Saat pandemi COVID-19 menghantam dan dunia terasa terhenti, Kimi justru melihat peluang untuk berkembang. Alih-alih merasa bosan, ia memanfaatkan waktu luang untuk bereksperimen. Berbekal kamera sederhana dan semangat yang membara, Kimi menyulap sudut rumahnya menjadi studio pribadi. Ia belajar teknik sinematografi secara otodidak, menyunting video dengan tekun, dan perlahan menemukan gaya visual yang menjadi ciri khasnya.
Maju Bersama Tim Multimedia Sekolah
Perjalanan Kimi semakin melebar ketika ia memasuki bangku SMA. Ia bergabung dengan tim PDD (Publikasi, Dokumentasi, dan Desain), sebuah wadah bagi siswa berbakat di bidang multimedia. Di sinilah Kimi mulai menghadapi tantangan yang lebih nyata—dari mendokumentasikan acara sekolah, mengelola konten media sosial, hingga mengikuti kompetisi bergengsi seperti OLIMPAR, FLS2N, dan berbagai festival film pelajar.
Bagi Kimi, pengalaman ini bukan sekadar tentang menang atau kalah. Ia belajar pentingnya kolaborasi tim, ketepatan waktu, dan cara menyampaikan pesan yang benar-benar mengena. Ia pun menyadari bahwa videografi bukan hanya soal sudut pengambilan gambar atau efek visual, melainkan soal kepekaan terhadap cerita. “Videografi adalah cara kita berkomunikasi tanpa berkata apa pun,” ujarnya.
Jadi Pemecah Masalah: Kreativitas Lahir dari Tantangan
Perjalanan Kimi tentu tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar yang sering dihadapinya adalah pencahayaan. Lokasi pengambilan gambar yang minim cahaya memaksanya berpikir kreatif—dari memanfaatkan cahaya alami, menggunakan reflektor buatan, hingga mengubah waktu syuting demi hasil terbaik. Tantangan-tantangan seperti ini justru menjadi kesempatan baginya untuk berkembang, beradaptasi, dan menemukan solusi.
Ia juga mengamati bahwa di era digital ini, banyak pemula yang ingin langsung menghasilkan karya spektakuler tanpa memahami dasar-dasarnya terlebih dahulu. Menurut Kimi, fondasi utama dari videografi adalah fotografi. “Sebelum merekam gerakan yang indah, kita harus bisa menangkap satu momen dengan baik,” ujarnya bijak. Prinsip inilah yang terus menjadi pedoman dalam setiap proses kreatifnya.
Menatap Masa Depan: Ubah Minat Jadi Profesi
Kini, Kimi tak lagi menganggap videografi sebagai sekadar hobi. Ia melihatnya sebagai jembatan menuju masa depan—entah menjadi sutradara dokumenter, editor profesional, atau kreator konten yang inspiratif. Dunia digital membuka banyak peluang, dan ia siap menjelajahinya dengan semangat belajar yang tak pernah padam.
Dengan keyakinan yang tumbuh dari perjalanan panjang, Kimi berharap karyanya bisa berbicara lebih dari sekadar visual. Ia ingin menyentuh perasaan penonton, mengangkat kisah-kisah yang sering terabaikan, dan menjadikan videografi sebagai sarana perubahan. Bagi Kimi, setiap kali ia menekan tombol kamera adalah langkah kecil menuju impian besar.


