Kesiapan Guru dalam Menerapkan Kurikulum Baru di Indonesia

Oleh : Ni Kadek Rika Pramudya

Perubahan kurikulum dalam dunia pendidikan merupakan upaya pemerintah untuk menyesuaikan sistem pembelajaran dengan perkembangan zaman dan kebutuhan siswa. Kurikulum baru diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, serta mengembangkan potensi siswa secara menyeluruh menuju generasi emas Indonesia tahun 2045. Namun, keberhasilan kurikulum tidak ditentukan hanya oleh kebijakan yang ditetapkan, melainkan kesiapan guru sebagai pelaksana utama di lapangan adalah kunci krusial. Oleh karena itu, kesiapan guru dalam menerapkan kurikulum baru harus benar benar disiapkan
(Nihaya & Yuniarsih, 2020).  Penerapan kurikulum baru menuntut guru untuk memahami kerangka berpikir, tujuan pembelajaran, strategi pembelajaran, serta sistem asesmen yang digunakan. Namun, kesiapan guru dalam menerapkan kurikulum baru masih menjadi persoalan yang perlu dikritisi. Hal ini disebabkan oleh adanya ketimpangan karena tidak semua guru memperoleh pelatihan yang cukup, sehingga pemahaman terhadap implementasi kurikulum menjadi berbeda-beda antar satuan pendidikan.

Menurut saya sebagai mahasiswa program studi pendidikan guru sekolah dasar, perubahan kurikulum yang sangat cepat (lima tahun sekali) ini perlu dilakukan diskusi kembali. Karena tidak semua sekolah negeri memiliki sumber daya yang sama serta sarana dan prasarana. Sekolah yang berada di daerah pinggiran akan lebih kesulitan mendapat informasi, bimbingan sekaligus pelatihan apabila kurikulum berganti. Meskipun menerapkan kurikulum terbaikpun belum tentu mampu mencetak generasi seseuai harapan akibat kurangnya kesiapan guru. Hal serupa juga ditegaskan oleh Maskur, (2023) dan Mawati dkk (2023) bahwa perubahan kurikulum memang dikukan sebagai upaya memperbaiki dari kurikulum sebelumnya, namun jika terlaksana kurang sesuai akan menghambat tercapainya tujuan pembelajaran, dan guru memegang peran sangat besar sehingga guru diwajibkan untuk siap.bn

Kesenjangan pendidikan di daerah terpencil semakin memperjelas masalah kesiapan guru tersebut. Guru di wilayah terpencil sering kali harus menerapkan kurikulum baru dengan sumber daya yang minim dan tanpa pendampingan intensif. Akibatnya, kurikulum diterapkan secara tidak optimal dan cenderung bersifat administratif semata, tanpa benar-benar memahami perubahan yang diharapkan. Hal ini berpotensi menimbulkan ketimpangan kualitas pembelajaran antara siswa di daerah maju dan daerah terpencil. Jika guru belum siap, maka tidak ada celah menuntut siswa untuk siap. Tanpa perhatian terhadap kesiapan guru, alih alih meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh Indoneisa malah memperbesar ketidakmerataan Pendidikan (Wijayanto, 2023).

Pergantian kurikulum tentu akan merabat ke pergantian berbagai aspek pembelajaran. Salah satunya adalah buku pegangan (Siregar dkk, 2022). Buku pegangan seharusnya disesuaikan agar seluruh siswa yang memegang buku bisa belajar dimanapun dan kapanpun. Dan perlu diingat bahwa tidak semua siswa sekolah dasar sudah memiliki akses internet yang memadai. Salah satu buku pegangan siswa yang sempat saya baca menunjukan bahwa di dalam buku memang sudah terdapat cerita dan materi yang mana kebetulan buku tersebut merupakan pelajaran Bahasa Indonesia. Namun yang perlu dipertanyakan adalah ada beberapa soal yang mewajibkan siswa membaca secara online, dalam buku hanya tertera sinopsis dan barcode untuk dipindai kemudian barulah cerita bisa kita baca melalui gawai. Tanpa akses internet   dan perangkat yang memadai bagaimana siswa bisa membaca cerita dan menjawab soal. Meskipun ini merupakan terobosan baru yang memadukan teknologi sehingga mendorong rasa ingin tahu siswa. Tetapi ini tidak bisa di nilai baik sepenuhnya, siswa yang tidak berkesempatan membaca cerita serta tidak mampu menjawab soal hanya akan memperkeruh masalah yang sudah menjadi perbincangan selama beberapa tahun terakhir yaitu kesenjangan pendidikan.

Perubahan kurikulum memang tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi guru belum tentu mampu menyesuaikan dalam waktu singkat. Untuk benar benar memahami kurikulum bisa membutuhkan satu tahun bahkan lebih tergantung bagaimana pelatihan yang diterima guru. Bukan hanya guru, siswa juga perlu menyesuaikan diri karena perubahan yang terjadi. siswa dan orang tua memiliki peran penting untuk mencetak generasi emas, namun peran paling krusial dalam pendidikan tingkat sekolah dasar dipegang oleh guru. Sehingga kesiapan guru menjadi keharusan yang harus diselesaikan.

Permasalahan tersebut tidak bisa dianggap remeh dan sangat perlu mendapat perhatian lebih. Kurikulum tidak salah, pelaksanaannya yang sering kurang tepat. Kesiapan guru harus diprioritas karena tanpa kesiapan guru dan pemerataan pendidikan, perubahan kurikulum justru berpotensi memperlebar kesenjangan pendidikan di Indonesia, terutama bagi siswa di daerah terpencil.

REFERENSI

Nihaya, S. S., & Yuniarsih, T. (2020). Pengaruh kesiapan dan gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran, 5(2), 267-280. https://doi.org/10.17509/jpm.v5i2.28843

Mawati, A. T., Hanafiah, H., & Arifudin, O. (2023). Dampak pergantian kurikulum pendidikan terhadap peserta didik sekolah dasar. Jurnal Primary Edu, 1(1), 69-82. https://jurnal.rakeyansantang.ac.id/index.php/primary/article/view/316

Maskur, M. (2023). Dampak pergantian kurikulum pendidikan terhadap peserta didik sekolah dasar. Jurnal Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (JKIP), 1(3), 190-203. https://doi.org/10.61116/jkip.v1i3.172

Wijayanto, A. (2023). Akselerasi Pengembangan Kurikulum Dan Mutu Pembelajaran.  Akademia Pustaka

Siregar, N. S., Julianto, A., & Ismunandar, A. (2022). Dampak Perubahan Kurikulum terhadap Buku Paket Bahasa Indonesia sebagai Kebijakan Pendidikan. Jurnal Pendidikan Islam Al-Affan, 3(1), 1-11. https://doi.org/10.69775/jpia.v3i1.89

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *