KONOHOA: Tugas Seorang Bapak Seharusnya Mengajarkan dan Mengamalkan Pancasila Bukan Memanjakan Putranya dengan Kekuasaan Dunia

Oleh: Inayah Sukma Wardhani, Mahasiswa Pendidikan Kimia 2024 FMIPA UNY

Dalam bulan ramadhan ini, tepatnya Ramadhan tahun 1446 H atau di tahun 2025 kegiatan yang harusnya sering kita dengar adalah “ODOJ” One Day One Juz namun, tidak untuk negara kita tercinta Indonesia, aktivitas disini yang sedang populer adalah “ODOC” yakni One Day One Case. Kami sudah sangat lelah dengan kasus-kasus yang terjadi di Negara tercinta ini, sungguh, kami warga Indonesia sangat kecewa dengan para penguasa. Tiap hari selalu ada saja gebrakannya, korupsi, ketidak adilan, kesenjangan, kebodohan, kemiskinan, pengangguran, pengesahan undang-undang yang tidak transaparan dan lain-lain yang masih sangat banyak. Dimana dasar negara yang sudah dibuat para pahlawan dan leluhur bangsa Indonesia. Apakah sila dalam Pancasila sekarang tinggal formalitas saja? Apakah Indonesia akan kembali terjajah, namun, dijajah oleh para penguasanya sendiri, mau dibawa kemana sebuah negara jika pemimpinnya tidak mengerti arti sebuah negara. Negara ada karena rakyatnya, katanya dari rakyat untuk rakyat, bukan dari rakyat untuk pejabat kan? Sudah banyak kritik yang kami suarakan, namun mereka suara kami seperti gonggongan anjing, pemerintah seolah-olah bertindak bahwa situasi ini yang terbaik dan ini yang harusnya yang terjadi, pejabat anti kritik, semua dibatasi, suara rakyat dibungkam, yang salah dilindungi karena apparat, sedangkan rakyat kecil harus mencari nafkah untuk memberi makan para pejabat, siapa yang ingin disejahterakan disini? Orang-orang penjilat itu, buzzer botak itu?

Indonesia gelap, Indonesia gawat darurat, apa guna demokrasi jika negerinya politik dinasti, pemerintahan kali ini, seperti menjabat 3 periode tapi, pakai second account. Sakit, sudah benar-benar sakit Negeri Indonesia ini. Sedih sekali Pancasila sudah tidak dipandang disini, otak mereka dimana, dimana sila dalam Pancasila itu. Setiap hari FYP (For Your Page) hal viral di sosial media selalu dipenuhi kritik dan suara-suara rakyat namun, pemerintahan ini sungguh sangat tidak ingin dikritik, mereka berlagak paling baik segala cara digunakan untuk kepentingan pribadi. Saya mengatakan turut berduka atas hilangnya semua sila dalam Pancasila. Mereka para penguasa yang mengatakan kami memiliki Tuhan namun, perilakunya jauh dari perintah Tuhan, kelakukan mereka dzolim dan menyimpang, jika takut Tuhan berjanji dengan sungguh-sungguh dibawah kitab suci, mereka tidak berani korupsi. Mereka melindungi koruptor-koruptor dan apparat dengan dalil kemanusiaan yang beradab, namun nyatanya mereka sangat biadab. Kelakuan rakyat adalah cerminan dari sebuah negara jika negara saja begitu maka persatuan rakyat mana yang ingin dibanggakan, mereka memecah belah rakyatnya. Fungsi DPR, katanya perwakilan rakyat nyatanya semua tidak berguna tidak ada suara rakyat yang didengar, mereka takut kehilangan jabatan jika terlalu membela rakyat, jadi untuk apa ada DPR, demokrasi dinodai, pemilu disiasati, semua menjadi politik dinasti dan untuk kepentingan pribadi, hal-hal diatas akan saling berkaitan dan akhirnya tidak akan ada keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Masyarakat miskin dibodoh-bodohi, anggaran Pendidikan di effisiensi, bagaimana negara akan maju sementara akses Pendidikan dibatasi seperti ini. Penjahat orde baru diberi jabatan sebagai presiden, penculik di zaman orde baru sedang menerapkan trauma di masa lalu yang belum ia capai, entah bagaimana ceritanya penculik orde baru yang kabur ke Yordania lalu kembali dan berpura-pura menjadi pahlawan. Negara ini dipimpin oleh orang-orang yang tidak expert dibidangnya, arogan, tidak punya hati hanya jabatan dan kekuasaan yang mereka pikirkan, kerjapun asal-asalan, banyak rapat tapi hasilnya omong kosong, ini alasannya mengapa mereka yang ahli justru malas terlibat dalam sistem pemerintahan yang sudah rusak ini, karena mereka paham bahwa ia pintar bukan orang bodoh yang menjilat agar mendapat tempat dalam kursi pejabat, apakah kita akan benar-benar kembali ke zaman kegelapan orde baru dimana mereka menganggap bahwa pemerintahan ini tenang-tenang saja namun, justru yang mematikan Pancasila, dihalalkan segala cara untuk memenuhi kepentingan pribadi, rakyat miskin dipelihara agar tetap miskin dan akan selalu dibodoh-bodohi, mereka mengemis suara rakyat miskin dalam pemilu, satu-satunya alat yang dapat dipakai adalah warga sipil yang tidak berpendidikan, mereka takut rakyat menjadi pintar, pemikiran yang kritis akan menjadi mimpi buruk untuk mereka. Melihat situasi saat ini, rakyat dan pemerintahannya sama saja, namun, saya katakan tidak semua rakyat Indonesia itu bodoh, mahasiswa seperti kami ini masih sadar akan urgensi pengamalan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kami tidak buta, kami mencintai Indonesia namun sistem pemerintahan Indonesia yang menghancurkan cinta kami. Saya berkata bahwa pemerintah adalah role model yang harusnya menjadi pemimpin dalam menegakan hukum yang seharusnya semua sistem di pemerintahan ini berlandaskan dan berasas Pancasila.

Cerminan suatu negara dilihat dari rakyatnya, namun lihatlah dulu para pejabatnya, mereka yang berkuasa, mereka yang katanya dipilih rakyat atau menyuap rakyat agar mereka mendapat kekuasaan. Pancasila sudah hilang, segalanya diobrak-abrik, rakyat masih banyak yang menderita karena tidak ada kesejahteraan dan dimana keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Kenapa mereka yang makan dari uang rakyat digaji bermilyar-milyar sedangkan rakyat hanya digaji dibawah UMR? Kami dinasehati agar selalu bersyukur untuk kalian yang serakah dan kufur itu. Penjahat menjadi presiden, koruptor diberi jabatan, wakil presiden yang tidak suka membaca buku, pengetahuannya sebatas buku komik, yang tidak pernah datang ke kampus untuk berdialog dengan mahasiswa karena tidak punya nyali, jabatannya aja ngemis kekuasaan dari bapaknya! Program kerja yang sangat tidak masuk akal dan tidak berdampak apapun dalam sistem ekonomi dan pendidikan, kerjaan wapres kita cuma bagi-bagi sementara presidennya menerapkan effisiensi tapi nambah menteri! Tidak ada Solusi terbaik dalam masalah ini, hal yang dapat saya sarankan adalah kembali kepada Pancasila dan maknai Pancasila dalam setiap pilar kehidupan, tolong kepada rakyat Indonesia tolong setidaknya jika bodoh dalam arti tidak tau dengan masalah politik setidaknya jangan mau dibodoh-bodohi dengan bansos, tingkatkan literasi, saya yakin masih banyak rakyat Indonesia yang dapat membaca dan memaknai kalimat-kalimat sulit, jadilah warga yang kritis jangan sampai moral teriris dengan perilaku nepotisme dan oligarki di negara ini.

Kami warga negara Indonesia sangat membutuhkan pemerintah yang memiliki hati Nurani, hal-hal yang sering saya dengar yakni dari rakyat untuk rakyat agar benar-benar direalisasikan, kami mendapat kesejahteraan, kami tidak butuh makan siang gratis, kami hanya ingin melihat kesenjangan sosial di negeri ini menipis serta demokrasi kembali menjadi pesta rakyat yang kritis tanpa ada serangan fajar, tolong. Selamatkan Indonesia dari keadaan gawat darurat kejahatan orde baru part II. Indonesia perlu perubahan bukan keberlanjutan menuju kegelapan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *