Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar: Sudahkah Berjalan Optimal?

Oleh: Kadek Novi Mayan Tika, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Ganesha

Penerapan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar membawa harapan baru terhadap pembelajaran yang lebih bermakna dan berpihak pada siswa. Akan tetapi, sudahkah Kurikulum Merdeka benar-benar berjalan optimal di setiap sekolah?. Pada kenyataannya, penerapan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar masih manghadapi berbagai tantangan, meskipun kurikulum ini hadir sebagai upaya memperbaiki kualitas pembelajaran. Namun dalam penerapannya di Sekolah Dasar, masih muncul sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan.

Tantangan pertama Kesiapan Guru yang berbeda-beda. Pada dasarnya, guru memegang peran penting dalam keberhasilan sebuah kurikulum. Akan tetapi, tidak semua guru memiliki pemahaman tentang konsep kurikulum Merdeka. Ada yang sudah siap, ada juga guru yang membutuhkan waktu untuk mempelajari tentang cara meyusun modul ajar, menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, dan melaksanakaan projek P5. Hal ini sejalan dengan penelitian  (Natasya et al., 2025), banyak  guru  merasa  belum cukup  memahami  konsep  Kurikulum Merdeka, termasuk   pendekatan pembelajaran    berbasis    proyek, diferensiasi    pembelajaran, dan asesmen  yang  fleksibel. Pelatihan yang di terima guru masih terbatas atau tidak merata. Kondisi ini membuat implementasi berjalan tidak seragam. Perubahan kurikulum memang memerlukan adaptasi, sehingga diperlukan pendampingan dan kesempatan belajar yang berkelanjuran agar semua guru dapat memahami dan menerapkan kurikulum Merdeka dengan percaya diri.

Selain kesiapan guru, fasilitas sekolah yang belum merata. Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran yang kreatif, aktif, dan berbasis proyek, serta memanfaatkan teknologi sebagai pendukung proses belajar. Namun pada kenyataannya, tidak semua sekolah memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung pembelajaran tersebut, terutama di daerah tertentu. Keterbatasan fasilitas seperti perangkat teknologi, bahan ajar, maupun ruang belajar yang mendukung kegiatan proyek membuat guru harus menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi yang ada. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian (Rahayu et al., 2021), terbatasnya guru yang mempunyai laptop, gawai yang mumpuni, dan juga akses internet yang memadai  menjadi  salah  satu  hambatan  dalam  Implementasi  Kurikulum  Merdeka. Karena fasilitas belum merata, guru belum siap, atau pelaksanaan P5 belum stabil. Akibatnya, beberapa kegiatan yang dirancang dalam Kurikulum Merdeka belum dapat dilaksanakan secara optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan kurikulum tidak hanya ditentukan oleh konsep yang baik, tetapi juga oleh kesiapan fasilitas yang mendukung pelaksanaannya.

Selanjutnya, tantangan juga ditemukan dalam pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Banyak sekolah telah berupaya melaksanakan P5 sebagai bagian penting dari Kurikulum Merdeka. Namun demikian, dalam praktiknya, beberapa sekolah masih mengalami kebingungan dalam menentukan jenis kegiatan yang sesuai dengan kondisi siswa dan lingkungan sekolah. Selain itu, proses menyiapkan media, mengatur pembagian tugas, serta menyusun alur kegiatan proyek membutuhkan perencanaan yang matang. Pengaturan waktu pelaksanaan P5 juga menjadi tantangan tersendiri, karena harus disesuaikan dengan jadwal pembelajaran agar tidak mengganggu kegiatan belajar di kelas. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan P5 masih memerlukan pendampingan dan penyesuaian agar tujuan penguatan karakter siswa dapat tercapai secara optimal.

Berdasarkan berbagai tantangan tersebut, saya berpendapat bahwa Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum yang memiliki tujuan sangat baik untuk mendukung perkembangan akademik dan karakter siswa Sekolah Dasar. Kurikulum ini memberi ruang bagi siswa untuk belajar secara aktif, kreatif, dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Namun, keberhasilan penerapannya tidak dapat dicapai secara instan, melainkan membutuhkan proses adaptasi serta dukungan yang berkelanjutan dari berbagai pihak.

Oleh sebab itu, peningkatan pemahaman guru melalui pelatihan dan pendampingan yang berkesinambungan sangat diperlukan agar guru lebih percaya diri dalam menerapkan pembelajaran sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka. Selain itu, perbaikan dan pemerataan fasilitas sekolah juga menjadi faktor penting agar setiap sekolah memiliki kesempatan yang sama dalam melaksanakan pembelajaran dan projek secara optimal. Dengan dukungan tersebut, Kurikulum Merdeka diharapkan dapat diterapkan secara lebih merata dan efektif, sehingga mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi seluruh siswa Sekolah Dasar.

Refrensi

Natasya, Ginting, F. B., & Kurniyati Wiwik, H. F. (2025). IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR: TANTANGAN DAN SOLUSI. 11, 121–127.

Rahayu, S., Rossari, D. V., Wangsanata, S. A., Eka, N., & Saputri, N. D. (2021). Hambatan Guru Sekolah Dasar Dalam Melaksanakan Kurikulum Sekolah Penggerak Dari Sisi Manajeman Waktu Dan Ruang Di Era Pandemi Covid-19. 5, 5759–5768.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *