Oleh: A. A. Istri Raka Tirta Widnyani, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Ganesha
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan. Seiring berjalannya waktu, tuntutan zaman semakin tinggi. Generasi muda dituntut tidak hanya unggul dalam akademis, tetapi juga diharapkan memiliki kreativitas tinggi dan mampu menghadapi tantangan globalisasi. Saat ini, kurikulum yang mendorong inovasi dianggap sebagai langkah penting untuk mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi perubahan global yang semakin cepat. Ini sejalan dengan Muzakkir et al. (2024) yang menyatakan bahwa kurikulum sebagai inti sistem pendidikan harus terus berinovasi agar mampu mengakomodasi kebutuhan peserta didik yang beragam serta menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan tuntutan zaman.
Akan tetapi dibalik semangat kurikulum yang mendorong inovasi, terdapat permasalahan di dalam penerapannya. Pada kota-kota besar, inovasi terhadap penerapan kurikulum mungkin mudah dilakukan karena dukungan akses teknologi dan fasilitas memadai. Tetapi bagaimana dengan guru di daerah terpencil yang masih menghadapi keterbatasan sarana prasarana, minimnya akses teknologi, lemahnya jaringan internet, serta pelatihan yang belum merata? Apakah tuntutan inovasi kurikulum adil bagi mereka yang berada di daerah terpencil?
Penerapan kurikulum di daerah terpencil sering kali jauh dari kata sempurna. Penelitian Lase (2024) menemukan bahwa sekolah-sekolah di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) mengalami kendala besar dalam menerapkan Kurikulum Merdeka, terutama karena kurangnya sosialisasi pemerintah dan terbatasnya akses internet yang membuat guru kesulitan memahami penerapan kurikulum secara menyeluruh.
Banyak sekolah di daerah terpencil masih mengalami kesulitan dalam menjangkau akses internet. Sementara itu, tuntutan pembelajaran saat ini tidak hanya menekankan penyampaian materi, tetapi juga pemanfaatan teknologi untuk menciptakan proses belajar yang kreatif dan lebih bermakna. Keterbatasan jaringan dan minimnya fasilitas teknologi membuat guru kesulitan mengembangkan inovasi pembelajaran yang selaras dengan tuntutan zaman.
Hal tersebut menunjukkan bahwa penerapan kebijakan kurikulum belum sepenuhnya selaras dengan realitas yang ada di lapangan. Tuntutan inovasi dalam kurikulum memerlukan sarana dan prasarana, serta akses teknologi yang memadai agar nantinya penerapan berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Namun, tidak semua sekolah memiliki kesiapan yang sama untuk memenuhi tuntutan tersebut. Ketika standar penerapan kurikulum disamakan tanpa adanya pertimbangan dari perbedaan kondisi wilayah, maka sulit menghindari ketimpangan dalam implementasinya.
Faktor geografis juga menjadi tantangan yang cukup serius bagi guru yang berada di daerah terpencil. Banyak dari mereka yang harus menempuh jalan yang sulit untuk sampai ke sekolah (Diah Ayu, et al. 2025 ). Kondisi ini akan mempegaruhi energi dan stamina mereka. Sedangkan tuntutan kurikulum mengharuskan agar guru dapat menyusun perangkat ajar inovatif, merancang proyek, serta membuat asesmen autentik yang sering kali membutuhkan waktu dan tenaga lebih.
Keterbatasan jumlah tenaga pendidik di daerah terpencil juga menyebabkan guru sering kali harus merangkap peran dengan mengajar lebih dari satu kelas sekaligus (Zamhari et al., 2025). Situasi ini menuntut guru untuk bekerja lebih ekstra dalam membagi waktu dan fokus. Dalam situasi tersebut, ekspektasi untuk terus berinovasi sesuai tuntutan kurikulum menjadi tantangan tersendiri. Tanpa ada dukungan yang memadai, tuntutan inovasi kurikulum justru berpotensi berubah menjadi tekanan administratif bagi guru, bukan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Meski demikian, di tengah berbagai keterbatasan guru di daerah terpencil, mereka bukanlah pihak yang tidak mampu berinovasi. Dalam banyaknya keterbatasan, guru justru berusaha untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Inovasi ini mucul karena adanya semangat dan rasa peduli terhadap proses pembelajaran, bukan dari fasilitas yang lengkap dan memadai. Tetapi, inovasi yang dilakukan tanpa dukungan yang kuat akan memiliki keterbatasan yang berkelanjutan.
Kenyataan seperti ini menimbulkan pertanyaan mengenai keadilan dalam penerapan kurikulum. Inovasi tidak akan berjalan secara optimal dan merata tanpa adanya dukungan yang memadai dari seluruh pihak terkait. Meskipun inovasi merupakan tujuan penting dalam pendidikan saat ini, kurikulum yang baik seharusnya tidak hanya menetapkan target ideal saja, tetapi juga memastikan kesiapan lingkungan pendidikan untuk mencapainya. Dalam konteks ini, keadilan dalam pendidikan tidak berarti semua sekolah diperlakukan sama, melainkan setiap peserta didik dan guru, baik yang berada di kota besar maupun di daerah terpencil, diberikan kesempatan yang setara untuk berkembang dan mengakses pendidikan berkualitas. Ketika standar penerapan kurikulum disamakan tanpa mempertimbangkan perbedaan kondisi wilayah, ketimpangan dalam implementasi pun menjadi sulit dihindari.
Oleh karena itu, implementasi kurikulum yang mengharuskan inovasi perlu disertai dengan kebijakan pendukung yang berpihak pada pemerataan. Pemerintah terkait perlu melakukan pemerataan akses teknologi, peningkatan infrastruktur pendidikan, serta penyediaan pelatihan dan pendampingan yang kontekstual terutama di daerah terpencil. Pelatihan guru perlu dirancang dengan mempertimbangkan kondisi wilayah, tidak hanya berbasis daring, tetapi juga melalui pendampingan langsung yang menjangkau daerah terpencil.
Referensi
Lase, I. P. (2024). Implementasi kurikulum merdeka pada daerah 3T dan kendala guru dalam penerapannya. Education and Development, 12(3), 601–603.
Lestari, D. A., & Novianti, Y. (2025). Dampak kesejahteraan guru di wilayah terpencil dalam menangani ketimpangan pendidikan. Jurnal Berbasis Sosial, 4(1), 30–38.
Muzakkir, E. S., Ismail, F., & Karoma, K. (2024). Inovasi dalam Kurikulum Pendidikan. Ainara Journal (Jurnal Penelitian Dan PKM Bidang Ilmu Pendidikan), 5(3), 308–312. https://doi.org/10.54371/ainj.v5i3.518
Zamhari, A., Lestari, P. E., Armila, Ningsih, Y. R., Almuhsona, L. G., Alviana, N., & Yuniarsih, S. (2025). Implementasi dan tantangan pembelajaran kelas rangkap di daerah terpencil: Studi kasus sekolah dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS), 5(2), 790–796.





