Nogosari — Bullying masih menjadi persoalan serius di lingkungan pendidikan dasar. Praktik perundungan yang sering kali dianggap sebagai candaan justru dapat meninggalkan dampak psikologis jangka panjang bagi anak. Rendahnya pemahaman siswa mengenai jenis-jenis bullying dan dampak psikologisnya menjadi salah satu faktor utama yang membuat perilaku ini terus berulang. Oleh karena itu, sekolah sebagai ruang tumbuh kembang anak perlu menjadi tempat yang aman, nyaman, dan peduli terhadap kesehatan mental siswa.
Melihat urgensi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Sub Kelompok 7 melaksanakan kegiatan Sosialisasi Program Sekolah Peduli dengan fokus pada peningkatan pengetahuan tentang jenis bullying dan dampak psikologisnya. Kegiatan ini dilaksanakan di dua lembaga pendidikan dasar, yaitu MI Miftahul Huda Bulak Kunci dan SD Negeri Nogosari.
Kegiatan sosialisasi di MI Miftahul Huda Bulak Kunci diikuti oleh 73 siswa dari kelas 4 hingga kelas 6, sementara di SD Negeri Nogosari kegiatan ini diikuti oleh 44 siswa dari kelas 1 sampai kelas 6. Perbedaan jenjang kelas tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi tim KKN untuk menyesuaikan metode penyampaian materi agar tetap mudah dipahami oleh seluruh peserta.
Materi sosialisasi mencakup pengenalan jenis-jenis bullying, seperti bullying verbal, fisik, sosial, dan siber (cyberbullying), disertai contoh nyata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Selain itu, siswa juga diberikan pemahaman mengenai dampak psikologis bullying, antara lain rasa takut, rendahnya kepercayaan diri, kecemasan, stres, hingga menurunnya motivasi belajar. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui diskusi, tanya jawab, serta simulasi sederhana agar siswa lebih aktif dan berani menyampaikan pendapat.
Respons siswa terhadap kegiatan ini menunjukkan antusiasme yang tinggi. Banyak siswa yang mulai menyadari bahwa perilaku mengejek, memanggil dengan julukan tertentu, atau mengucilkan teman merupakan bentuk bullying yang tidak dapat dibenarkan. Beberapa siswa bahkan mengaku pernah mengalami atau tanpa sadar melakukan tindakan tersebut. Hal ini menandakan bahwa sosialisasi tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga reflektif, mendorong siswa untuk lebih peduli terhadap perasaan teman sebaya.

Program Sekolah Peduli ini diharapkan menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan ramah anak. Penanaman nilai empati, saling menghargai, dan keberanian untuk melapor jika terjadi bullying merupakan kunci utama dalam pencegahan perundungan sejak dini. Peran guru dan sekolah juga sangat penting untuk melanjutkan edukasi ini secara berkelanjutan, sehingga pesan yang disampaikan tidak berhenti pada satu kegiatan saja.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Sub Kelompok 7 yang terdiri dari Mahisa Danar Ageng Mujaddid, Syaif Izzuddin Karimi, Devi Natalia Amanda, dan Annisa Nurul Pebriyanti, dengan bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Haikal Arsalan, S.H., M.H. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN tidak hanya berkontribusi dalam pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga turut mengambil peran dalam upaya membangun generasi muda yang sehat secara mental dan sosial.
Dengan adanya program sosialisasi ini, diharapkan sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga menjadi ruang aman yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kepedulian, dan kesejahteraan psikologis bagi seluruh siswa.





