Menilik Kehidupan “Salah Asuhan” Karya Abduel Moeis

Oleh : Amelia Dwikristia Ningsih, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Perjalanan Pendidikan yang Mengubah Segalanya

Hanafi, merupakan tokoh sentral novel ini, adalah seorang pemuda Minangkabau yang cerdas dan bersemangat. Pada masa itu, Hogere Burgerschool (HBS) adalah institusi pendidikan menengah yang menunjukkan prestise dan kemajuan, yang dia capai berkat prestasinya di sekolah. Namun demikian, keluarganya harus mengorbankan banyak untuk mendapatkan pendidikan berkualitas tinggi ini. Ibunya bersedia mengorbankan uang untuk membantu saudara laki-lakinya. Bukan biaya yang menjadi masalah terbesar, tetapi keharusan Hanafi untuk tinggal bersama keluarga Belanda. Seluruh kehidupannya akan berubah karena transformasi karakter yang dimulai dengan keputusan pragmatis ini. Nilai-nilai Eropa secara bertahap meresap ke dalam jiwa Hanafi ketika mereka tinggal di rumah sendiri, menciptakan perbedaan dengan tradisi asalnya.

Cinta yang Membelah Jiwa

Hanafi bertemu Corrie du Bussee, gadis berdarah campuran yang menjadi obsesi romantisnya, melalui pergaulan Indo-Eropa. Corrie mengalami trauma emosional yang parah sebagai akibat dari penolakan perasaannya. Hati Hanafi terluka karena kepergian gadis itu ke Betawi. Keluarga melakukan intervensi melalui perjodohan dengan Rapiah, putri pamannya sendiri. Rumah tangga yang rapuh dibangun oleh pernikahan yang didasarkan pada rasa terima kasih, bukan cinta yang benar-benar tulus. Meskipun Rapiah memiliki sifat mulia dan sabar, dia tidak mampu memenuhi kerinduan Hanafi terhadap masa lalunya. Hubungan mereka yang dingin tidak lebih kuat daripada kehadiran putra mereka, Syafii. Hanafi terus bertindak keras kepala dan kasar terhadap istri yang setia, menunjukkan betapa jauh dia menyimpang dari standar penghormatan perempuan di Timur.

Pelarian ke Masa Lalu

Hanafi melarikan diri ke Betavi setelah digigit anjing rabies. Pertemuan kembali dengan Corrie yang kini semakin menawan menghidupkan kembali hasrat lama yang tidak pernah padam. Hanafi melupakan pertimbangan moral dan meninggalkan kewajibannya sebagai suami dan ayah untuk mengejar mimpi romantis yang tidak dapat dicapai. Keputusan egois ini menunjukkan bahwa pendidikan Barat telah menghancurkan nilai-nilai konvensional tentang loyalitas keluarga dan tanggung jawab sosial Hanafi.

Keterasingan di Antara Dua Dunia

Pernikahan yang diimpikan dengan Corrie ternyata membawa malapetaka sosial. Hanafi menemukan dirinya terjebak dalam limbo budaya: ditolak oleh orang Eropa yang menganggapnya sebagai pendatang, dan dikucilkan oleh orang pribumi yang menganggapnya pengkhianat. Karena menikah dengan orang pribumi, Corrie sendiri mengalami ostrakisme dari lingkaran sosialnya. Akhirnya, Corrie harus meninggalkan Hanafi dan pindah ke Semarang, meninggalkan suaminya dalam kesendirian yang sulit karena tekanan sosial. Hanafi tidak berhasil mengejar istrinya ke Semarang. Cinta semata-mata tampaknya tidak dapat menghancurkan batas-batas prasangka rasial, hierarki sosial kolonial, dan perbedaan duniawi fundamental.

Pesan Moral tentang Bahaya Alienasi Budaya

Epilog tragis novel ini mengkritik sistem pendidikan kolonial yang mengasingkan generasi dari budayanya sendiri. Abdul Muis menggunakan nasib Hanafi sebagai alegori tentang bahaya modernisasi yang tidak seimbang ketika kemajuan intelektual tidak diimbangi dengan penguatan identitas budaya. pola pendidikan Hanafi sebagai “salah asuhan”, yang mengutamakan penerapan prinsip-prinsip luar tanpa mempertimbangkan dampak mereka terhadap integritas kepribadian. Ia tidak memiliki kemampuan untuk menjadi orang Eropa asli, tetapi ia juga telah kehilangan kemampuan untuk kembali menjadi orang pribumi yang sebenarnya. Karya ini menjadi peringatan abadi tentang betapa pentingnya pendidikan untuk meningkatkan kecerdasan dan memperkuat akar budaya dan identitas bangsa. Tragedi Hanafi mengingatkan kita bahwa kemajuan tanpa identitas hanyalah kehampaan yang sakit.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *