Menjadi Mahasiswa Pekerja di Era Modern Fenomena Mahasiswa Pekerja: Antara Tuntutan Ekonomi dan Investasi Masa Depan

Oleh : Siti Fadila, Universitas AKI / Sastra Inggris

Di tengah derasnya arus modernisasi dan meningkatnya biaya hidup, fenomena mahasiswa pekerja kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari wajah pendidikan tinggi di Indonesia. Semakin banyak mahasiswa yang menjalani kehidupan ganda, pagi menuntut ilmu di kampus lalu malam bekerja di restoran, toko, atau secara daring sebagai freelancer dan content creator. Realitas ini bukan lagi sesuatu yang jarang dijumpai, melainkan cerminan adaptasi generasi muda terhadap tantangan ekonomi dan kebutuhan masa depan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar tujuh persen pelajar Indonesia, termasuk mahasiswa, menjalani pendidikan sambil bekerja. Angka tersebut terus meningkat seiring naiknya biaya pendidikan dan kebutuhan hidup di kota besar. Survei JobStreet Indonesia tahun 2024 juga mengungkap bahwa sebagian besar mahasiswa bekerja bukan hanya untuk mencari uang saku, tetapi untuk membiayai kuliah, membantu ekonomi keluarga, dan memperoleh pengalaman profesional sejak dini.

(Dokumen penulis)

Jenis pekerjaan yang digeluti mahasiswa pun semakin beragam. Banyak dari mereka bekerja di sektor jasa seperti perhotelan, restoran, dan ritel, sementara lainnya memilih bidang digital yang lebih fleksibel seperti menjadi penulis lepas, virtual assistant, atau pengelola media sosial. Pekerjaan ini dianggap memberikan keseimbangan antara kebutuhan finansial dan waktu belajar. Namun di balik fleksibilitas tersebut, tantangan yang dihadapi tidaklah kecil. Mahasiswa pekerja harus memiliki kemampuan manajemen waktu yang sangat baik agar tidak tertinggal dalam perkuliahan maupun performa kerja. Penelitian yang diterbitkan di ResearchGate pada tahun 2023 menunjukkan bahwa mahasiswa pekerja sering menghadapi tekanan waktu yang tinggi dan kesulitan menjaga keseimbangan antara studi, pekerjaan, serta waktu istirahat. Akibatnya, stres akademik dan kelelahan menjadi hal yang umum terjadi, terutama menjelang ujian atau tenggat tugas penting.

Selain persoalan waktu, stigma sosial juga masih membayangi mahasiswa pekerja. Tidak sedikit yang menilai mereka kurang fokus pada akademik atau tidak dapat bersaing dengan mahasiswa yang sepenuhnya berfokus pada studi. Pandangan ini tentu tidak sepenuhnya tepat karena mahasiswa pekerja justru mengembangkan berbagai keterampilan yang tidak selalu diajarkan di ruang kelas, seperti kedisiplinan, tanggung jawab, komunikasi, dan kemampuan memecahkan masalah. Bahkan, penelitian dari Universitas Indonesia pada tahun 2023 menemukan bahwa mahasiswa yang bekerja memiliki tingkat kemandirian dan daya tahan mental lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang tidak bekerja. Mereka terbiasa menghadapi tekanan, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta mengambil keputusan dengan cepat.

Meski menghadapi berbagai tantangan, menjadi mahasiswa pekerja memberikan nilai tambah yang besar bagi masa depan. Pengalaman kerja di masa kuliah mengajarkan pentingnya literasi keuangan sejak dini, di mana mahasiswa belajar mengatur pendapatan, mengelola pengeluaran, dan memahami arti kerja keras. Selain itu, pengalaman profesional selama kuliah juga menjadi modal penting dalam memasuki dunia kerja. Survei JobStreet Indonesia tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen perusahaan di Indonesia lebih memilih lulusan baru yang memiliki pengalaman kerja, meskipun Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mereka tidak terlalu tinggi. Hal ini membuktikan bahwa soft skills seperti komunikasi, kerja tim, dan adaptabilitas menjadi faktor penting dalam dunia kerja modern. Untuk mendukung potensi besar mahasiswa pekerja, diperlukan kebijakan dan sistem yang berpihak kepada mereka. Perguruan tinggi perlu memberikan fleksibilitas akademik melalui penyediaan kelas malam, pembelajaran daring, atau kebijakan dispensasi kehadiran yang rasional bagi mahasiswa yang bekerja. Pemerintah juga dapat memperluas akses beasiswa dan bantuan pendidikan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu agar tidak harus bekerja melebihi kapasitasnya. Di sisi lain, perusahaan tempat mahasiswa bekerja sebaiknya menyediakan jam kerja yang lebih fleksibel selama masa ujian serta memberikan kesempatan bagi karyawan muda untuk tetap melanjutkan pendidikan tanpa hambatan administratif.

Masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap mahasiswa pekerja. Mereka bukanlah mahasiswa yang terpaksa bekerja karena keterbatasan, tetapi individu yang berani berinvestasi pada masa depan dengan cara yang mandiri dan tangguh. Mahasiswa pekerja adalah potret generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang dalam pengalaman hidup. Dengan dukungan yang tepat dari berbagai pihak, mereka akan menjadi generasi profesional yang mampu bersaing di dunia kerja sekaligus menjadi motor penggerak pembangunan Indonesia di masa depan. Fenomena mahasiswa pekerja tidak seharusnya dipandang sebagai beban sosial, melainkan sebagai bukti nyata ketahanan, kreativitas, dan semangat pantang menyerah generasi muda Indonesia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *