Oleh : Afifah Nur Nabila, Pendidikan Kimia, Universitas Negeri Yogyakarta
Indonesia merupakan negara yang heterogen karena adanya keberagaman budaya, suku, agama, ras, dan lain sebagainya. Namun, seringkali muncul permasalahan sosial yang dipicu oleh keheterogenan tersebut. Pada permasalahan inilah Pancasila berperan sebagai pedoman hidup dalam menjaga persatuan dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di Indonesia. Penyelesaian masalah tersebut, semua solusinya terkandung di dalam kelima sila Pancasila. Pancasila adalah dasar dan ideologi bangsa Indonesia yang mempunyai fungsi dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia (Semadi, 2019). Sebagai dasar dan ideologi negara, Pancasila memiliki peran penting dalam menghadapi serta menjadi solusi berbagai permasalahan hidup maupun permasalahan lain yang dihadapi oleh Indonesia seperti pada aspek hukum, politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Salah satu permasalahan yang sering dihadapi Indonesia adalah konflik sosial budaya karena adanya keheterogen suku dan budaya. Dalam permasalahan ini, nilai-nilai dalam sila ke-3 Pancasila mengajarkan bagaimana pentingnya menjaga keutuhan serta persatuan bangsa. Solusi tersebut dapat dilakukan dengan mengedepankan nilai toleransi serta tenggang rasa terhadap adanya keheterogenan agar konflik yang terjadi di Indonesia tersebut dapat diatasi dan diminimalisir.
Selain itu, pada sila pertama menegaskan bahwa, setiap rakyat memiliki kebebasan dalam menganut keyakinan dan agamanya masing-masing. Hal itu diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, dan dibuktikan dengan adanya 6 agama yang diresmikan. Adanya sikap toleransi antarumat beragama menjadi landasan utama dalam pencegahan konflik di Indonesia yang menyangkut tentang keyakinan seperti rasis, menjelek-jelekkan agama lain, dan sebagainya. Apabila setiap individu dapat saling menghormati perbedaan dengan tidak memaksakan orang lain untuk memeluk agama yang sama dan tidak rasis, permasalahan yang menyangkut nilai-nilai pada sila pertama tersebut juga dapat diminimalisir. Kemudian pada sila kedua, memberikan pengajaran kepada masyarakat Indonesia untuk berlaku adil serta tidak membeda-bedakan dengan sesama manusia. Selain itu, nilai yang terkandung dalam sila kedua juga mendorong kita untuk tidak bersikap diskriminatif terhadap suku, ras, atau kelompok tertentu. Karena semua orang baik yang berada di kota, pedesaan, maupun di daerah yang terpencil berhak mendapatkan perlakuan yang sama, yaitu dengan cara menjunjung tinggi nilai kemanusiaan tanpa memandang perbedaan suku, agama, serta sosial budayanya. Kemudian, nilai yang terkandung dalam sila keempat memberikan solusi dalam penyelesaian permasalahan ataupun pengambilan keputusan dengan cara musyawarah dan mufakat.
Musyawarah serta mufakat tersebut menjadi cara yang terbaik dalam pengambilan keputusan, hal ini karena keputusan tersebut merupakan hasil dari suara terbanyak dengan melibatkan orang-orang yang berwenang maupun orang-orang yang bersangkutan agar dapat diterima oleh semua pihak serta tidak merugikan salah satunya. Selanjutnya, sila kelima menegaskan bahwa pemerintah harus berperan aktif dan berperilaku adil dalam menciptakan kesejahteraan sosial yang merata terhadap seluruh warga masyarakat di Indonesia tanpa terkecuali. Kesenjangan sosial dan ekonomi seringkali menjadi penyebab utama dari permasalahan tersebut, sehingga sangat diperlukan adanya kebijakan dari pemerintah yang adil dan tidak memihak hanya kepada pihak tertentu. Karena, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan suatu hal yang penting untuk kesejahteraan masyarakat hingga tahun-tahun berikutnya. Apabila nilai-nilai Pancasila tersebut telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka keheterogenan yang terdapat di Indonesia justru akan menjadi kekuatan yang bersatu. Adanya rasa toleransi, kemanusiaan, persatuan, dan musyawarah, serta keadilan merupakan nilai dasar dalam menjaga keharmonisan Indonesia.
REFERENSI
Semadi, Y. P. (2019). Filsafat Pancasila dalam pendidikan di Indonesia menuju bangsa berkarakter. Jurnal Filsafat Indonesia, 2(2), 82-89.



