Paradigma Orang NTT di Bali: Antara Stereotip, Tantangan, dan Peluang

Oleh : Oktavianus Meta Yiwa

Bali, sebagai salah satu destinasi wisata terkenal di dunia, tidak hanya dikenal sebagai pusat keindahan alam dan budaya, tetapi juga sebagai tempat di mana berbagai suku dan komunitas dari seluruh Indonesia berkumpul dan menetap. Salah satu komunitas yang cukup signifikan di Bali adalah orang dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Kehadiran orang NTT di Bali bukanlah fenomena baru; mereka telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya di pulau Dewata.

Namun, keberadaan dan keberhasilan orang NTT di Bali seringkali terjebak dalam paradigma tertentu yang terbentuk dari stereotip, persepsi, dan pandangan sosial budaya. Paradigma ini tidak hanya mempengaruhi cara pandang masyarakat Bali terhadap orang NTT, tetapi juga berdampak pada cara orang NTT memandang diri mereka sendiri dan berinteraksi di lingkungan baru tersebut.

Kedatangan orang NTT ke Bali berakar dari sejarah migrasi yang panjang. Dalam konteks sejarah Indonesia, migrasi antarsuku dan antarpulau telah terjadi sejak masa kolonialisme dan masa perjuangan kemerdekaan. Pulau Bali, dengan daya tariknya sebagai pusat kebudayaan dan ekonomi, menjadi salah satu destinasi utama bagi orang dari berbagai daerah, termasuk NTT.

Seiring berjalan nya  waktu, orang NTT datang ke Bali untuk mencari pekerjaan, pendidikan, atau bahkan merintis usaha sendiri. Banyak dari mereka yang menjadi pedagang, buruh bangunan, pelayan hotel, pengrajin, dan pekerja layanan lainnya. Komunitas NTT di Bali semakin berkembang, membentuk lingkungan yang khas dan menjadi bagian integral dari masyarakat Bali secara sosial dan ekonomi.

 Adapun stereotip dan paradigma yang muncul di kalangan masyarakat Bali terkait keberadaan orang NTT di daerahnya menyebutkan bahwa orang NTT dikenal sebagai pekerja keras dan ulet. Mereka sering dipandang sebagai individu yang tekun, pantang menyerah, dan memiliki semangat gotong royong yang tinggi.Ada juga yang memandang orang NTT sebagai pembawa budaya dan adat yang kaya, dengan keramahan dan kehangatan hati. Namun di sisi lain, muncul gambaran bahwa orang NTT seringkali dianggap sebagai komunitas yang kurang berpendidikan, kurang integratif, dan kadang-kadang dipandang sebagai kelompok yang bergantung pada bantuan sosial. ada juga stereotip bahwa orang NTT di Bali sering terlibat dalam kegiatan yang dianggap “di pinggir garis”, seperti pekerjaan kasar, atau bahkan dikaitkan dengan perilaku tertentu yang tidak sesuai dengan norma lokal.

Dalam beberapa kasus, keberadaan komunitas NTT juga menghadapi isu keamanan, terutama jika terjadi gesekan sosial atau kriminalitas yang melibatkan anggota komunitas mereka. Hal ini menimbulkan persepsi negatif yang diperkuat oleh stereotip dan media. Sehingga dampak paling buruk yang dirasakan orang NTT di bali yaitu susahnya mencari pekerjaan dan tempat tinggal (kos-kosan). bahkan baru-baru ini telah dikeluarkan paruman desa adat yang menyebutkan untuk  mengusir orang NTT dari pulau Bali.  (https://mediaindonesia.com/nusantara/846496/viral-satu-desa-adat-di-bali-tolak-warga-ntt-tinggal-di-wilayah-mereka)

Oleh karena itu, Penguatan pendidikan dan kesadaran sosial sangat penting untuk mengubah paradigma negatif yang berkembang. Melalui pendidikan formal dan informal, masyarakat di Bali dan komunitas NTT perlu memahami bahwa keberagaman adalah kekayaan bangsa Indonesia. Selain itu Mengembangkan budaya toleransi dan saling menghormati antar komunitas menjadi kunci dalam menciptakan harmoni sosial. Program pertukaran budaya, dialog antar komunitas, dan kegiatan bersama dapat mempererat hubungan antar kelompok. Disamping itu juga organisasi kemasyarakatan dan paguyuban harus menjadi motor penggerak dalam membangun solidaritas, advokasi hak, dan pemberdayaan komunitas NTT di Bali.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *