Sarjana Banyak, Lapangan Kerja Sedikit: Ada yang Salah?

Oleh : Najwa Aulia (321230010) Mahasiswa Sastra Inggris Universitas AKI, Dosen Pengampu: Dr. Ahmad Tauchid, S.S., M.Pd.

Setiap tahun, ribuan mahasiswa secara resmi meraih gelar sarjana melalui acara wisuda. Gelaran tersebut masih menjadi simbol kesuksesan sekaligus harapan untuk masa depan yang lebih baik. Namun, setelah perayaan wisuda hilang, banyak lulusan yang menghadapi kenyataan pahit: kesulitan dalam menemukan pekerjaan yang layak. Ketika jumlah sarjana semakin meningkat, sedangkan peluang kerja dirasa semakin sempit, muncul pertanyaan yang perlu direnungkan—ada masalah, tetapi di mana letaknya?

Saat ini, kemiskinan di kalangan sarjana sering kali terhubung dengan kemampuan pribadi. Lulusan dianggap kurang siap bekerja, kurang keterampilan, atau terlalu pilih-pilih dalam mencari pekerjaan. Pandangan ini terlihat logis pada pandangan pertama, tetapi cenderung masalah yang ada. Jika jumlah lulusan perguruan tinggi bertambah setiap tahun, sedangkan peluang kerja tidak berkembang dengan seimbang, maka masalah tersebut tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada individu.

Salah satu isu utama adalah ketidakselarasan antara pendidikan dan dunia kerja. Banyak siswa memperoleh pemahaman teoritis yang mendalam, tetapi kurang pengalaman praktis yang memadai. Akibatnya, karyawan sering mengalami kesulitan beradaptasi saat memasuki dunia kerja. Keterampilan dasar seperti komunikasi, tim kerjasama dan kemampuan menyelesaikan masalah menjadi tantangan tersendiri, meskipun keterampilan tersebut sangat dibutuhkan di lingkungan kerja saat ini.

Di sisi lain, situasi pasar kerja juga perlu diperhatikan. Pertumbuhan lapangan kerja formal tidak sebanding dengan jumlah lulusan yang dihasilkan setiap tahun. Tidak semua sektor industri dapat menampung tenaga kerja terdidik dalam jumlah besar. Peluang kerja cenderung di kota-kota besar, sehingga persaingan semakin ketat, sementara lulusan yang berasal dari daerah memiliki opsi yang lebih banyakterbatas.

Aspek lain yang mendukung situasi adalah cara memandang masyarakat terhadap pendidikan tinggi. Gelar sarjana masih dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Pendidikan vokasi dan jalur non-akademis sering dipandang sebelah mata. Hal ini menyebabkan banyak anak muda terpaksa melanjutkan studi tanpa perencanaan yang matang, hanya untuk mendapatkan gelar. Ketika kenyataan dunia kerja tidak sesuai dengan harapan, kekecewaan pun tidak bisa dihindari.

Situasi ini berdampak tidak hanya pada aspek ekonomi, tetapi juga pada kondisi psikologis para lulusan. Sarjana yang belum menemukan pekerjaan atau bekerja di luar bidang keahlian mereka sering mengalami tekanan mental dan penurunan rasa percaya diri. Dalam masyarakat yang masih mengukur keberhasilan berdasarkan pekerjaan dan pendapatan, kondisi ini dapat menghasilkan beban sosial yang signifikan bagi generasi muda.

Permasalahan ini jelas tidak bisa diselesaikan hanya dengan saling memaafkan. Perguruan tinggi perlu terus berinovasi dengan menyesuaikan kurikulum, memperkuat pengalaman praktis, serta mewujudkan kerjasama yang lebih nyata dengan sektor industri. Di sisi lain, pemerintah memegang peranan penting dalam menciptakan kebijakan ekonomi yang mendukung terciptanya lapangan kerja baru, terutama yang dapat menjaring tenaga kerja terdidik.

Lebih jauh lagi, masyarakat juga perlu mengubah cara memandang tentang arti pendidikan dan kesuksesan. Gelar sarjana seharusnya menjadi modal untuk berkembang, bukan jaminan otomatis untuk mendapatkan pekerjaan. Dunia kerja terus berubah, dan pendidikan harus mampu mengikuti dinamika tersebut.

Fenomena  meningkatnya jumlah lulusan di lapangan kerja yang tersedia sangat sedikit bukan hanya sebuah ironi, tetapi juga menunjukkan bahwa pendidikan dan sistem pekerjaan perlu ditinjau dengan seksama.  Bila hal ini tidak terselesaikan, gelar sarjana bisa kehilangan arti, dan generasi muda akan terus mengalami kerusakan.Pertanyaan yang muncul sekarang bukan lagi apakah terjadi  kesalahan, melainkan apakah kita bersedia untuk memperbaikinya secara bersama-sama.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *