Strategi Menangkal Hoaks dan Cyberbullying di Kalangan Remaja

Oleh : Venda Islamia Listiyeni, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Tidar

Media sosial kini memiliki dominasi dan popularitas yang sangat tinggi, khususnya di kalangan remaja Indonesia. Akses informasi yang menjadi mudah, konektivitas antar remaja, serta dapat mewadahi kreativitas remaja membuat media sosial popular dan marak digunakan.

Namun, seiring meluasnya jejaring media sosial, muncul sisi gelap yang menjadi ancaman serius. Penyebaran berita palsu atau hoaks dan cyberbullying semakin merajalela. Media sosial yang tidak memiliki batasan spesifik dalam menyaring informasi yang tersebar, menyebabkan penyebaran hoaks dan cyberbullying tidak terkendali.

Permasalahan tersebut berdampak negatif untuk keberlangsungan interaksi sosial remaja dan tingkat kesehatan mental. Oleh karena itu, permasalahan hoaks dan cyberbullying perlu diatasi meski harus melibatkan banyak pendekatan seperti literasi sosial, peran aktif lingkungan sosial, dan tanggung jawab platform media sosial.

Hoaks dan cyberbullying biasanya berkembang di kalangan remaja. Remaja hakikatnya sedang dalam masa mencari jati diri, mudah terpengaruh, dan memiliki kemampuan berpikir kritis yang cukup kurang. Hal tersebut membuat remaja menjadi sasaran paling pas untuk penyebaran hoaks dan cyberbullying.

Berita palsu atau hoaks biasanya mengandalkan isi konten yang sensasional dan emosional. Tujuannya untuk menarik banyak orang untuk mengikuti dan mempercayai isi berita yang disebarkan.

Di sisi lain, cyberbullying dilakukan hanya untuk kepuasan ego semata dari pihak yang berlindung di balik anonimitas. Hal itu didorong oleh keinginan balas dendam, merasakan superioritas yang semua, ataupun hanya sekadar ‘ikut-ikutan’ orang lain yang sudah terlebih dahulu melakukan cyberbullying.

Remaja yang masih menjunjung tinggi ego, tentu merasa bahwa hoaks dan cyberbullying bisa memuaskan ego mereka. Terlebih masih kurangnya pemahaman mereka terhadap etika digital dan konsekuensi yang akan mereka dapatkan setelahnya. Oleh karenanya, remaja perlu dihindarkan dari sisi gelap bermedia sosial.

Untuk mencegah adanya dampak negatif lain dari hoaks dan cyberbullying, diperlukan sejumlah strategi agar mampu membantu meminimalisir atau bahkan menghilangkan kebiasaan menyebarkan hoaks dan cyberbullying.

Penyebaran hoaks dapat diminimalisir dengan adanya edukasi literasi digital oleh pihak tertentu, peran aktif lingkungan keluarga dalam mengawasi anaknya ketika sedang membaca informasi di media sosial, serta tanggung jawab platform media sosial dalam rangka memperketat algoritma sehingga dapat mengurangi penyebaran konten hoaks.

Adapun strategi dalam mengatasi cyberbullying yakni meliputi mengembangkan pendidikan empati dan konsekuensi dari melakukan bullying, pihak keluarga dan sekolah perlu berperan aktif dalam mengenali tanda-tanda korban dan pelaku cyberbullying, peran lingkungan dalam mendorong korban agar berani melaporkan dan memberi dukungan secara psikologis, serta platform dan penegak hukum yang dapat membantu secara aktif dan kooperatif dalam menangani pelaku cyberbullying.

Namun, cepatnya perkembangan teknologi, kesulitan pengawasan konten secara menyeluruh, dan perlawanan dari pihak yang diuntungkan dari konten hoaks dan cyberbullying menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat untuk mengatasinya.

Oleh karena itu, diperlukan kontribusi aktif masyarakat dalam menciptakan interaksi digital yang lebih damai. Meminimalisir konten hoaks dan cyberbullying dengan terus menyuarakan kontra terhadap kedua permasalahan itu. Membangun wadah yang bermanfaat bagi semua orang dengan menggunakan segala strategi yang dapat dilakukan. Harapannya, masyarakat khususnya remaja dapat menggunakan media sosial sebijak-bijaknya dan membiarkan sisi terang media sosial mendominasi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *