Oleh : Nur Fiantini Desi Susilowati, STIKES NASIONAL
Food reaction bisa berupa alergi, intoleransi maupun sensitivitas makanan. Ketiga food reaction tersebut sering dianggap sama padahal merupakan kondisi yang berbeda. Alergi makanan adalah respon imun berlebihan yang dimediasi oleh antibody IgE. Tubuh salah mengidentifikasi zat tertentu sebagai ancaman dan melepaskan histamin, memicu reaksi cepat (<2 jam) bahkan berpotensi mengancam nyawa. Contoh : alergi kacang, muncul ruam, gatal, atau sulit bernapas setelah makan kacang. Untuk mencegah terjadinya alergi hindari pemicu alergi, karena dalam porsi kecilpun dapat menyebabkan reaksi tubuh. Pemeriksaan laboratorium dapat dideteksi melalui IgE blood test and skin prick test.
Intoteransi makanan adalah respons fungsional non-imun, yang terjadi ketika tubuh gagal mencerna makanan tertentu, karena kekurangan enzim atau malabsorpsi atau gangguan penyerapan. Reaksi terjadi tidak langsung sekitar 1 jam – 48 jam setelah konsumsi. Contoh : intoleransi laktosa, muncul nyeri perut, kembung, atau diare setelah konsumsi susu. Karena tubuh kekurangan enzim lactase untuk memecah laktosa (gula pada susu). Porsi dan frekuensi konsumsi dapat mempengaruhi Tingkat keparahan reaksi
Sensitivitas makanan adalah respons imun yang kompleks, seringkalai dimediasi oleh antibody IgG, IgM, atau mekanisme lain. Umumnya reaksi lebih lambat (hingga 72 jam) gejala beragam seperti brain fog, kelelahan, sakit kepala, nyeri sendi, kembung, jerawat, ruam, dll. Contoh : MSG sensitivity, muncul migrain atau kembung setelah makan UPF (tinggi MSG). Makanan pemicu lebih banyak, sehingga lebih sulit untuk dipastikan. Porsi berpengaruh, konsumsi sedikit mungkin tidak menimbulkan reaksi. Tetapi Ketika konsumsi lebih banyak reaksi muncul.
Alergi, intoleransi maupun sensitivitas makana bukanlah akar masalah sebenarnya, melainkan gejala dari ketidakseimbangan system tubuh. Keseimbangan tubuh bisa diupayakan mulai dari memperbaiki pencernaan, keseimbangan mikrobia usus, dan pola hidup (neurobehaviour).
Hal ini dapat membantu :
· Meningkatkan toleransi tubuh terhadap lebih banyak jenis makanan
· Mengurangi gejalan dan meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh
Reaksi makanan bisa muncul dalam waktu 3 jam hingga 72 jam setelah konsumsi jadi, jangan buru-buru mengubah menu sebelum mengetahui apa makanan pemicunya.


