Oleh : Aji Febriansyah, Mahasiswa UIN Suska Riau
Salah satu dimensi kemukjizatan (i‘jāz) Al-Qur’an yang paling menonjol dan abadi adalah i‘jāz balāghī, yakni kemukjizatan dalam aspek kebahasaan, retorika, dan keindahan susunan kalimatnya. Fenomena ini bukan sekadar bukti keindahan sastra Arab, melainkan juga menjadi tanda nyata bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Ilahi yang berada di luar kemampuan manusia. Dalam konteks ini, bahasa manusia seolah-olah “tunduk” pada keagungan firman Allah, karena tidak ada satu pun karya sastra, pidato, atau puisi yang mampu menandingi keindahan, kedalaman makna, dan kekuatan pengaruh Al-Qur’an.
Sejak diturunkannya, Al-Qur’an telah menantang seluruh manusia, khususnya bangsa Arab yang dikenal sebagai bangsa dengan tradisi bahasa dan sastra yang tinggi, untuk menandingi satu surah saja dari Al-Qur’an (Q.S. Yunus [10]: 38). Tantangan ini bukan hanya bersifat linguistik, tetapi juga epistemologis—sebuah ujian terhadap batas kemampuan manusia dalam meniru struktur dan kandungan kalam Ilahi. Namun, hingga kini, tantangan tersebut tidak pernah terjawab. Para ahli bahasa dan penyair Arab klasik seperti al-Walīd ibn al-Mughīrah bahkan mengakui bahwa Al-Qur’an memiliki gaya yang tidak dapat dibandingkan dengan syair atau prosa Arab mana pun.
Secara ilmiah, keunikan i‘jāz balāghī dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, struktur sintaksis (naḥwī) dan pilihan diksi (lafẓ) dalam Al-Qur’an menunjukkan harmoni yang sempurna antara bentuk dan makna. Kata-kata yang digunakan memiliki keakuratan semantik tinggi, sehingga setiap perubahan kecil dalam redaksi berimplikasi terhadap makna teologis dan hukum yang mendalam. Kedua, ritme dan musikalitas ayat-ayat Al-Qur’an menciptakan efek psikologis yang kuat, baik bagi pendengar maupun pembaca. Hal ini menunjukkan bahwa i‘jāz balāghī bukan sekadar estetika linguistik, tetapi juga memiliki daya spiritual dan komunikatif yang melampaui batas rasional manusia.
Selain itu, keindahan retorika Al-Qur’an tidak hanya bersifat ornamental, tetapi juga fungsional. Gaya bahasa seperti isti‘ārah (metafora), tasybīh (perumpamaan), dan kināyah (sindiran halus) digunakan secara tepat untuk mengungkapkan konsep-konsep abstrak, moral, dan metafisis. Sebagai contoh, penggunaan perumpamaan tentang cahaya dalam Q.S. An-Nūr [24]: 35 menunjukkan bagaimana Al-Qur’an menggabungkan keindahan bahasa dengan kedalaman makna teologis. Dengan demikian, keindahan retorika tersebut bukan sekadar keindahan bunyi, melainkan instrumen penyampaian wahyu secara efektif dan menyentuh.
Di era modern, kajian i‘jāz balāghī tetap relevan, terutama dalam konteks hermeneutika dan studi linguistik Al-Qur’an. Para sarjana kontemporer seperti Amina Wadud dan Muhammad Arkoun melihat bahwa dimensi bahasa Al-Qur’an bukanlah penghalang bagi interpretasi, melainkan ruang terbuka yang memungkinkan dialog antara teks dan realitas manusia. Keunikan struktur bahasa Al-Qur’an justru menjadi bukti bahwa pesan Ilahi bersifat universal dan dinamis, dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan substansi keilahiannya.
Akhirnya, i‘jāz balāghī menegaskan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an tidak dapat direduksi menjadi aspek sastra semata. Ia adalah manifestasi dari hubungan antara bahasa dan wahyu—antara keterbatasan manusia dan keabadian Tuhan. Ketika bahasa manusia mencapai puncak kemampuannya, di sanalah ia menemukan batasnya, dan batas itu adalah Al-Qur’an. Dengan demikian, i‘jāz balāghī bukan hanya mukjizat linguistik, tetapi juga simbol ketundukan intelektual dan spiritual manusia terhadap kalam Ilahi yang tiada tara.
Referensi
Al-Bāqillānī, Abū Bakr. I‘jāz al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1971.
Ar-Rummānī, ‘Alī ibn ‘Īsā. An-Nukat fī I‘jāz al-Qur’ān. Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1981.
Al-Jurjānī, ‘Abd al-Qāhir. Dalā’il al-I‘jāz. Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1982.
Az-Zarkasyī, Badr al-Dīn. Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Beirut: Dār al-Fikr, 1988.
As-Suyūṭī, Jalāl ad-Dīn. Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Ḥadīth, 2006.
Izutsu, Toshihiko. God and Man in the Qur’an: Semantics of the Qur’anic Weltanschauung. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2002.
Mir, Mustansir. Coherence in the Qur’an: A Study of Islahi’s Concept of Nazm in Tadabbur-i Qur’an. Indianapolis: American Trust Publications, 1986.
Abdel Haleem, M.A.S. “Grammatical Shift for the Rhetorical Purposes: Iltifāt and Related Features in the Qur’an.” Bulletin of the School of Oriental and African Studies 55, no. 3 (1992): 407–432.
Wadud, Amina. Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective. New York: Oxford University Press, 1999.
Arkoun, Mohammed. Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers. Boulder: Westview Press, 1994.
Mir, Mustansir. “The Qur’an as Literature.” Religion & Literature, Vol. 20, No. 1 (1988): 49–64.
Al-Zamakhsyarī, Abū al-Qāsim. Al-Kasysyāf ‘an Ḥaqā’iq al-Tanzīl. Beirut: Dār al-Kutub al- ‘Ilmiyyah, 1998.


